07/06/2022
Post Visitors:21

FOKUS BERITA KOTA BEKASI – Pemulung dan pelapak kecil sebagai pelaku 3R (reduce, reuse, recycle) di garis terdepan harus mendapatkan perhatian khusus dalam perlindungi kesehatan dan kelangsungan hidupnya. Mereka hidup dalam lingkungan tercemar, berbagai penyakit mengancam tubuhnya. Apalagi pada masa pandemic Covid-19, virus tersebut nyata dan telah merengut banyak nyawa. Sehingga harus waspada dan selalu taat pada Protokol Kesehatan.

Dalam upaya melindungi dan menjaga kesehatan pelapak dan pemulung, maka Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) berpartisipasi dalam kegiatan “ Program Vaksinasi Pemulung bagi Kelompok Pemulung dan Pelapak di TPA Sumur Batu ” Habis Vakin Mendapatkan Sembako ”, Rabu ( 27 /10/2021 )

Turut hadir Yayan Yuliyana Kadis LH Kota Bekasi, Jeffri Ricardo, Senior Manajer PT. Danone Indonesia, Toni Kepala UPTD TPA Sumur Batu, Bagong Suyoto Ketum APPI, Dadang Kasi Kesos Kelurahan Sumur Batu, Ibrohim Ahsan Ketua Katar Kelurahan Sumur Batu , Bimaspol dan Pemuda Karang Taruna Serta Nakes.

Bagong Suyoto Ketum , Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia ( APPI ) Mengatakan Target vaksinasi sebanyak 200-500 orang. Kegiataan ini diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI, Pemerintah Kota Bekasi, Danone, Aqua, Nutricia, Sari Husada, didukung oleh Pengelola UPTD TPA Sumurbatu, Pospol Polsek Bantargebang, Karang Taruna Sumurbatu, dll.

Pemulung dan pelapak kecil bagian dari sektor informal. Kondisi mereka pada masa Covid-19 menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sangat berat, diantaranya: (1) Hasil pungutan sampah menurun selama pandemi Covid-19, turun 50-60%. (2) Harga pungutan sampah gabrugan rendah, Rp 800-1.200/kg. (3) Penjualan hasil pungutan seringkali tak langsung dibayar kontan, karena bosnya juga dihutang sama pabrikan. (4) Akibatnya menambah hutang, bunga 10-20%/bulan pada Bank Emok/Bank Plecit. (5) Kesulitan mencukupi kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok sehar-hari. (5) Belum mendapatkan bantuan Program Pemerintah, seperti Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), bantuan lunak untuk usaha, Sembako murah, dll.

(6) Kebijakan atau ketentuan extended producer responsibility (EPR) dari dunia usaha belum jelas, padahal pemulung membantu mengelola sampah kemasanya, Ujarnya.

Menurut Bagong , Pada awal-awal adanya Covid-19 banyak pemulung dan pelapak yang kurang percaya terhadap penyakit itu. Mereka tetap mengais sampah guna mencukupi kebutuhan sehari-hari dan mempertahankan hidup. Mereka tidak taat pada Protokol Kesehatan. Bagaimana bisa menerapkan Protokol Kesehatan karena tinggal di gubuk-gubuk kecil dengan sanitasi buruk dan ketika mengais sampah pun selalu berkerumun. Hampir setiap hari mereka bergumul bersama. Jumlah pemulung dan pelapak di kawasan TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu lebih dari 7.000 orang.

Setelah Idhul Fitri 2021 pandemi Covid-19 meningkat tajam dan sejumlah pemulung dan pelapak terjangkiti Corona, bahkan ada yang meninggal. Semakin banyak yang percaya adanya Covid-19 dan mereka menjadi was-was.
Pada awal dilakukan vaksinasi banyak warga, pemulung dan pelapak yang tidak mau divaksin, ada yang takut, dan lain-lain. Dalam perjalanan waktu, secara perlahan diantara mereka mulai ada yang mau divaksin. Karena banyak pihak yang melakukan advokasi, adanya surat edaran/himbauan dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah agar masyarakat melakukan vaksinasi sebagai syarat pengurusan yang berkaitan dengan administrative, seperti KTP/KK, SIM, dll.
Namun, ada kendala yang dialami beberapa pemulung tidak bisa mengikuti vaksinasi meskipun antusias. Sebab tidak punya KTP, artinya tidak punya NIK. Apalagi KK. Oleh karena perlu bantuan atau dampingan untuk mengurus kartu indentitas tersebut.

Terima kasih banyak kepada pemerintah pusat dan daerah, dunia usaha, asosiasi, warga, dll yang melakukan kolaborasi dalam kegiatan vaksinasi hari ini. Semoga kegiatan ini dapat membantu menekan dan menyelapkan Covid-19. Dan, yang terpenting kesehatan semakin kuat sehingga bisa menjalankan amanah hidup ini.Ungkapnya.

Bagong, berharap dunia usaha dan stakeholders lain mendukung secara konkrit kerja-kerja produktif dalam konteks income-generating, pemberdayaan dalam sector daur ulang, dukungan teknologi, pasar dan informasi daur ulang, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM), pangan murah dan ketahanan pangan, permukiman dan sanitasi, kesehatan, dll guna meningkatkan kesejateraan dan martabat pemulung, pelapak dan warga miskin di sekitar kawasan TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu, Tutupnya. ( Hadi )

%d blogger menyukai ini: