09/25/2022
Post Visitors:29

FBN – BANJARMASIN || Masyarakat miskin perkotaan memiliki tipologi yang sangat unik dengan berbagai problematika sosialnya. Faktor ketidakberdayaan membuat masyarakat miskin sulit bergerak dan mendapatkan akses perbankan.

Pengalaman empiris dan pengalaman historis dari format sosial ekonomi dan dikotomi telah melahirkan berbagai pandangan mengenai pemberdayaan yakni Power to Nobody (Pemberdayaan adalah Penghancuran Kekuasaan), Power to Everybody (Pembagian kekuasaan kepada setiap orang) dan Power to Powerless (Penguatan kepada yang lemah tanpa menghancurkan yang kuat).

Pandangan paling realistis dan moderat adalah Pandangan ke-3 yakni Power to Powerless. Untuk Kota Banjarmasin sendiri, pusat kawasan kumuhnya teridentifikasi berada di pusat kota dan bantaran sungai. Filosofi Power to Powerless bila diterapkan dengan action plan yang tepat, akan menghasilkan strategi pemberdayaan masyarakat yang sesuai untuk Slum Area (kawasan kumuh perkotaan).

Dalam periode waktu yang tidak lama, hal ini bisa terwujud jika masyarakat juga termotivasi untuk ikut belajar menjalankan bisnis yang tepat, dengan modal yang cukup dan sasaran/pasar yang telah siap untuk menampung hasil produksinya.

Direktur Utama Bank kalsel yang baru saja menyelesaikan Program Doktoralnya yakni Bapak Dr. Drs. Agus Syabarrudin, MSi hadir dalam Virtual Meeting Forum Komunikasi Go Green dengan Tema Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Slum Area/ kawasan kumuh Kota Banjarmasin, Sabtu (5/09/2020).

Menyebutkan, “ RLAFM1 adalah singkatan dari Rahmatan Lil Alamin Financing Model 1, yakni sebuah skema pembiayaan yang dilakukan oleh institusi keuangan baik Bank maupun Non Bank untuk membantu masyarakat dalam memperoleh modal usaha disertai dengan financial planning yang tepat.

Sebagai high regulated funding dan menyangkut prudential banking, maka sebelum menyalurkan modal pada dunia usaha, bank terlebih dulu harus memiliki data lengkap dari nasabah disertai jaminan dan mitigasi resiko apabila sewaktu-waktu kredit tersebut mengalami kemacetan.

Hal ini membuat masyarakat terbagi dalam dua kelompok yakni tidak mau akses dan tidak tahu akses. Agar dapat memahami dengan benar tentang model pembiayaan yang ditawarkan maka kelompok usaha diberikan personal approach dalam bentuk sosialisasi agar tidak keliru dalam memandang bank sebagai mitra usahanya. Agar tidak terdapat kesan bahwa berurusan dengan bank itu ribet atau menyulitkan.

Sosialisasi ini penting bukan saja untuk membuka peluang usaha yang lebih luas namun juga untuk membangkitkan kembali ekonomi masyarakat kalsel yang telah jatuh/ terpuruk di era Covid19 dengan cara memulihkan kegiatan ekonominya” Terang Dr. Agus memaparkan.

Sedangkan RLAFM2 adalah sebuah skema pembiayaan yg berpola charity. Lebih bertumpu pada pemanfaatan dana sosial untuk membantu masyarakat yg kurang berdaya dengan charity, infaq atau sadaqah. Kedepan RLAFM2 diharapkan dapat lebih berkembang dengan dukungan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Kalimantan Selatan.

Hulu dan Hilir Kemiskinan bukan harga mati, namun harga hidup yang masih bisa berkembang dan bertumbuh dengan baik bila kemitraan dijalankan dengan sepenuh hati dan sepenuh strategi dalam harmonisasi dan toleransi yang saling berimbang dan mendukung. Hal ini merupakan sebuah upaya sinergi dari hati untuk memperbaiki kehidupan sesama dengan hati-hati dan berpola menenangkan hati. Sukses selalu untuk Bank Kalsel, Bank Kebanggaan Banua.

Pewarta : Leny

%d blogger menyukai ini: