BUBARKAN DEMONTRAN, LEGITIMASI PEMILU 2019 SEDANG DIUJI

59

JAKARTA, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Partisipasi Politik ialah kegiatan warga negara biasa dalam pengarugi proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan umum dan dalam ikut menentukan pemimpin pemerintahan. (Ramlan Surbakti, 1992). Dalam sistem demokrasi rakyat juga berpartisipasi dalam Pemilu. Pemilu 2019 yang dilaksanakan di Indonesia termasuk yang paling sukses di dunia karena tingkat partisipasinya cukup tinggi.

Pengamat Politik Bekasi, Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) memberikan pemaparan Legitimasi Pemilu 2019. Rabu (22/5/2019).

Pemilu 2019 dikuti 2 Paslon: No. 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dan 02 Prabowo-Sandi. Berdasar rekapitulasi KPU yang diumumkan pada 21 Mei 2019 dini Pasangan 01 menang dan Pasangan 02 kali. Efeknya, kubu Probowo-Sandi tidak mengakui dan tidak mau menanda-tangani berita acara. Alasannya pemilu kali dipenuh kecurangan secara terstruktur, sistematis dan massif.

Pasca-pengumuman rekapitulasi tersebut massa pendukung Prabowo-Sandi berbondong-bondong ke Jakarta. Rencanakan mereka akan mengepung gedung KPU, Bawaslu, dll. Tetapi massa kesulitan menembus gedung KPU, sebab penjagaannya sangat ketat. Akhirnya massa berkonsentrasi di sekitar gedung Bawaslu dari siang hingga malam hari. Sepanjang malam hari terjadi gesekan dan kerusuhan antara aparat dengan massa di beberapa titik.

Pada pukul 00.30 Wib tanggal 22 Mei 2019, polisi bubarkan para demontran di depan kantor Bawaslu di Jalan Thamrin, Jakarta. Polisi sudah beri tenggang waktu ijin demo, namun massa tetap bertahan di jalan Wahid Hasyim. Massa sempat membubarkan diri pada 19.30 Wib, namun tak selang beberapa lama massa kembali lagi. Seharusnya pukul 18.00 Wib waktu demo selesai.

Sebelumnya sudah dilakukan negosiasi beberapa kali. Pihak kepolisian meminta agar massa membubarkan diri, sementara pendemo minta agar kawanya yang ditahan dibebaskan.

Beberapa kali terjadi gesekan. Kepolisian terus mendesak agar massa bubar. Akhirnya polisi mengeluarkan peringatan 1, 2, 3, kemudian disertai gas air mata. Situasinya makin mencekam. Setelah negoisasi alot dan massa tidak membubarkan diri.

Pukul 00.56 Wib polisi terus mendesak massa sambil menembakan gas air mata berkali-kali. Massa mundur menjauh dari barisan polisi.

Pada pukul 00.59-01.16 Wib polisi gunakan motor mengejar demontran, sambil menembakan gas air mata. Semakin pagi dini suasana makin sengit. Kapolda Metro Jaya ke lapangan ikut mengendalikan situasi. Polisi melakukan penyisiran ke area sekitar gedung Bawaslu, sampai ke Kebon Kacang, juga ke area Tanah Abang pukul 01.19 Wib. Aparat menduga di sini merupakan titik kumpul massa. Massa melawan dengan melemparkan batu ke arah polisi pada pukul 01.22 Wib. Polisi merangsek mendesa massa tersebut. Pukul 01.26 kendaraan taktis menembakan gas air mata. Polisi berkali-kali minta massa di Tanah Abang Blok A membubarkan diri, pulang ke rumah.

Ternyata, massa bertahan dan malah menywrang dengan melempari batu pukul 01.30 Wib. Kebanyakan massa adalah pemuda. Kendaraan water canon dan sejymlah polusi menembakan gas air mata agar untuk mengusir massa pukul 01.36 Wib. Di samping itu ada kebakaran, kemudian polisi memadamkannya. Pada pukul 01.41 serangan gas air mata makin massif. Sampai pukul 01.56 Wib massa masih bertahan, secara intensif polisi menembakan gas air mata. Pukul 02.01 Wib massa tetap bertahan dan melempari batu, dibalas dengan tembakan gas air mata. Di sini juga aparat kepolisian ditambah dan berlapis untuk bubarkan massa. Pukul 30.03 tampaknya situasi mulai mereda, berbarengan waktu makan syaur.

Tampaknya pasar Tanah Abang masih bergolak, pukul 03.24 Wib. Polisi terus merangsek, dibalas dengan lemparan batu. Polisi terus maju memukul massa, agar situasi kondusif. Maju terus mendesak massa. Water cannon menembakan gas air mata. Namun, massa tetap bertahan. Aparat kepolisian juga bermotor untuk pecah massa. Ada perintah, berkali-kali teriakan kata maju. Water cannon maju. Pukul 03.31 Wib aparat polisi makin banyak, suasana Tanah Abang makin gaduh dan mencekam. Berkali-kali water cannon memuntahkan gas air mata. Hampir semua polisi berteriak-tetiak: maju, maju…!!

Pukul 02.14 Wib bentrokan polisi dengan massa di Tanah Abang bertambah sengit. Polisi berlapis-lapis dibantu kendaraan taktis. Pukul 02.18 Wib situasi mereda, beberapa polisi duduk-duduk, istirahat. Namun, pukul 02.23 Wib serangan gas mata semakin gencar diarahkan ke massa di Tanah Abang ini. Massa tampaknya tak gentar, meskipun tembakan gas air mata bertubi-tubi. Pukul 02.32 Wib ada kabel listrik terbakar. Pukul 02.40 Wib jumlah polisi makin banyak keluarkan tembakan gas air mata makin sengit.

Hingga pukul 03.38 Wib fokus dan konsentrasi pengamanan di pasar Tanah Abang. Polisi tetap menembakan gas air mata, juga mulai menaiki tangga menyisir para demontran. Massa yang terdiri anak muda tetap tak bergeming, melalukan perlawanan dengan melempari batu. Pukul 03.56 Wib serangan gas air mata makin seru.

Sementara aparat kepolisian tetap jaga ketat gedung Bawaslu, masih terdengar tembakan-tembajan gas air mata. Sebagian massa masih berkumpul di depan gedung Bawaslu. Pukul 01.30 Wib barikade polisi menjaga ketat gedung Bawasla. Sampai pukul 01.51 Wib aparat gabungan semakin ketat menjaga gedung Bawasla, terutama di jalan Wahid Hasyim, sesekali terdengar tembakan gas air mata. Kemudian kerumunan massa di jalan Sabang pada pukul 01.55 Wib. Pukul 02.06 polisi memukul mundur massa di Jl. Sabang. Secara perlahan polisi memukul mundur disertai tembakan gas air mata pukul 02.10 Wib.

Ada penambahan aparat kepolisian untuk meredam massa pada pukul 02.08 Wib. Mereka ditempatkan di perempatan Jl. MH Thamrin dan Wahid Hasyim. Pukul 02.19 Wib massa masih bertahan. Sementara penambahan aparat polisi terus berlangsung, untuk perkuat bebera titik kerumunan massa.

Massa di Jl. Sabang mayoritas anak-anak muda. Mereka penuh semangat menghadapi polisi. Pukul 02.35 Wib polisi tingkatkan serangan. Polisi bersenjata berlapis-lapis terus merangsek memburu massa. Situasi makin gaduh dengan teriakan-teriakan. Tembakan gas air mata kian massif. Polisi memburu hingga gang-gang kampung. Komandan menghibau dengan pengeras suara: … sudah-sudah adik-adik, waktunya, sebentar lagi sahur. Kami polisi bukan musuh kalian…!?”

Sebanyak 36.000 aparat keamanan diturunkan secara bertahap. Pukul 03.09 Wib situasi semakin reda, dan tampaknya aparat mulai duduk-duduk istirahat. Sementara massa tidak kelihatan, seperti di Jl. Sabang.

Peristiwa riot ini merupakan batu ujian terhadap proses Pemilu 2019 hingga rekapitulasi berlaku jujur dan dan adil? Kubu dan massa yang menolak hasil rekapitulasi adalah ujian yang berat. Implikasinya mengurangi legitimasi Pemilu. Hal ini harus menjadi bahan pertimbangan serius dan dilakukan langkah-langkah konkrit menyelesaian permasalahan tersebut. (red**)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini