BUKBER TUCSONIC dI SEKOLAH PELANGI SEMESTA ALAM KAWASAN TPST BANTARGEBANG

61

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Seminggu lalu Tucson Indonesia Community (Tucsonic) survey ke Sekolah Pelangi Semesta Alam Kawasan TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. Sekolah ini terdiri dari penyelenggaraan pendidikan tingkat TK/ PAUD dan setingkat usia sekolah dasar untuk pendidikan Al-Qur’an, kegiatan pengajian dan pelatihan kaum perempuan.

Rencana tersebut direalisasi pada Minggu, 26 Mei 2019. Kehadiran Tucsonic ke Sekolah Pelangi Semesta Alam dipimpin Mas Yudi dan Ramon Monces dan anggotanya sekitar 20 orang. Sedang murid yang ikut acara ini sebanyak 37 anak, belum termasuk orang tuanya, 7 orang guru dan kepala sekolah.

Mereka ingin mengetahui secara langsung kondisi sekolah dan penyelenggaraannya. Tucsonic menginterview guru-guru di sini. Sekolah yang didirikan tahun 2009 kemudian mendapat ijin resmi Dinas Pendidikan Kota Bekasi tahun 2012. Namun, sekarang semakin terdesak oleh pabrik limbah beracun dan berbahaya. Sekeliling sekolah itu sudah dikeliling pagar arcon dan sebelahnya berdiri gubuk-gubuk pemulung dan di bagian depan gunung-gunung sampah TPA Sumurbatu milik Pemkot Bekasi.

Agenda/acaranya meliputi mendongeng untuk anak-anak, foto keluarga (anak dan wali murid), pemberian tas sekolah dan alat tulis, pemberian makanan dan minum untuk buka puasa dan uang santunan, penyerahan uang santunan untuk guru dan pemeliharaan halaman sekolah. Batuan tersebut dapat memperingan beban sekolah.

Bagong Suyoto, perintis dan pendiri Sekolah Pelangi Semesta Alam dalam sambutannya mengatakan, bahwa sekolah ini rintis tahun 2009 dari kegiatan pendataan bersama jurnalis dan mahasiswa di Kota Bekasi. Ketika itu mendapat 60 anak, hampir semuanya anak pemulung. Selanjutnya dilakukan kegiatan pendidikan tanpa pembagian umur. Semua boleh sekolah. Ada yang belajar komputer, ketrampilan, melukis, belajar iqro dan al-qur’an, dll.

Ketika itubtempat belajarnya sangat sedehana, dapat dikatan belum layak. Merupakan sekolah gratis. Kemudian orang tua murid menuntut dapat raport dan ijazah. Tahun 2012 dapat ijin resmi Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Siswa mulai dikelompok-kelompok berdasar usia, PAUD, TK, TPQ, kelompok ibu-ibu. Untuk kaum perempuan, kita menyelenggarakan Pendidikan Perempuan Untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development).

Di sini juga ada training pengelolaan sampah dan lingkungan hidup. Seperti pelatihan sampah 3R (reuduce, reuse, recycle), seperti pemilahan sampah, compisting, dan daur ulang sampah plastik. Sejumlah sekolah di Jabodetabek hampir setiap bulan melakukab fieldtrips ke TPST bantargebang. Sebaliknya pengelola sekolah, yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) diundang menjadi nara sumber di sejumlah lembaga pemerintah dan swasta, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian PUPR, Kemenperin, Kemenristik Dikti, DPR RI, DPD RI, perguruan tinggi, NGOs, dll.

Sekolah ini mengusung slogan: Pendidikan Lingkungan Sejak Usia Dini. Karena letaknya berdampingan dengan pembuangan akhir sampah. Setidaknya sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang milik Pemprov DKI Jakarta sekitar 7.500 ton/hari dan ke TPA Sumurbatu sekitar 1.500 ton/hari. Luas keseluruhan kedua TPA sekitar 125-130 hektar.

Sekolah dan TK/PAUD Pelangi Semesta Alam kemudian pindah ke gedung baru pada tahun 2011/2012. Murid-muridnya dikenai biaya sebesar Rp 50 ribu/bln. Besaran biaya ini dibandingkan sekolah lain, relatif lebih kecil. Tetapi sejumlah wali murid tak bisa membayar secara rutin, bahkan 3-4 bulan baru bayar, ada yang sudah menunggak 9 bulan.

Memang tidak mudah membangun tanggung jawab dan kesadaran sodaqoh untuk ilmu. Karena, pinginnya semua gratis. Supaya ilmu yang diperoleh berkah. Pengelola sekolah harus sabar. Untuk menutupi biaya operasional selama ini lebih banyak dari upaya swadaya, meskipun dapat biaya operasional penyelenggaraan pendidikan.

Mas Yudi mengatakan, agar bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Merupakan bentuk kepedulian temen-temen Tusconic. Kegiatan ini merupakan awal menjalin persahabatan dengan Sekolah Pelangi Semesta Alam di kawasan TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu. Tusconic tidak melakukan buka puasa bersama dengan anak-anak, namun selalu membuat acara yang khas dan unik. Pokok berbeda dengan yang lain.

Tusconic untuk mengabadikan acara itu melakukan pemotretan, shooting, juga dibantu drone untuk mendapatkan gambar yang natural dan indah. Pendokumentasian aktivitas tersebut lebih lengkap dan kuat.

Kepala dan pengurus Sekolah Pelangi Semesta Alam di kawasan TPST Bantargebang dan TPA Sumurbatu mengucapkan terima kasih kepada Tucsonic atas perhatian, kepedulian, dukungan dan bantuannya. Semoga bermanfaat untuk kemajuan sekolah ini. Dan kedepan hubungan ini lebih dinamis dan konkrit. * 26/5/2019

Bagong Suyoto, Penanggungjawab Sekolah Pelangi Semesta Alam di kawasan TPST Bantargebang, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS). (red**)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini