12/03/2022
Post Visitors:133

PT. Sanggabuana Berjaya Indonesia Yang Diduga Membuang Limbah dan Tidak Memiliki Plang Identitas Perusahaan

FBN – KABUPATEN KARAWANG || Dugaan limbah cair Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang bersumber dari perusahaan Sanggabuana Berjaya Indonesia (PT. SBI) di Tegalloa RT/RW. 09/07, Desa Cintaasih, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat yang mengakibatkan ribuan ikan milik para petani yang berada disekitar area belakang bangunan PT SBI mati mengambang.

Sebagaimana telah diberitakan beberapa hari lalu, Selasa (15/12/2020) dengan judul : Diduga Limbah Cair dari PT. SBI, Sejumlah Petani Ikan Menjerit “Ikan Patin, Mas dan Mujair Mati” Akhirnya pihak PT. SBI dengan para korban di mediasi oleh Pemerintah Desa Cintaasih di ruang alua kantor desa. Rabu (16/12/20).

Dari keterangan Kepala Desa Cintaasih, Dede Suryadi mengatakan bahwa hasil mediasi tersebut pihak PT. SBI bersedia mengganti rugi sesuai permintaan para korban yaitu mengganti modal seharga ikan-ikan yang mati untuk pembenihan ulang kembali. Dalam pembayarannya, pihak PT. SBI meminta tempo satu minggu, akan tetapi Kepala Desa menyarankan agar dapat dibayarkan 4 hari kedepan.

https://fokusberitanasional.net/wp-content/uploads/2020/12/VID-20201218-WA0243.3gp

Kepala Desa Cintaasih, Dede Suryadi

Kades Dede selama ia menjabat kurang lebih dua tahun, baru kali ini bisa masuk bersama beberapa aparatur lainnya melihat kondisi didalam perusahaan tersebut, guna melihat aktifitas warganya dalam bekerja di PT. SBI, Karena selama ini akses untuk bisa masuk ke perusahaan tersebut sangat sulit.
“Inipun karena ada kejadian ramainya berita ikan-ikan warga yang mati,” terang Kades. Rabu (16/12/2020).

Kades mengaku, ia sangat kaget dengan aktifitas produksi yang ada didalam PT. SBI tersebut. Sementara yang ia ketahui dalam profil perusahaan surat pengajuan perpanjangan domisili yang sudah ia terima namun belum ia tanda tangani, bahwa bangunan PT. SBI tersebut izinnya adalah peruntukan “gudang”, namun faktanya nyata-nyata berproduksi pembuatan torn air, bukan penyimpanan barang atau gudang.

“Satu sisi memang warga kami butuh pekerjaan, namun warga kami yang bekerja disitu hak-haknya bagaimana,,? dan bila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti kecelakaan kerja, jaminan-jaminan lainnya, bagaimana pertanggung jawaban perusahaan,,?.

Foto Dokumen: Nampak Lubang Pembuangan Limbah ke Saluran Pesawanan dan Petani Ikan

Dan yang paling penting lagi, wilayah kami ini adalah zona hijau, untuk pemukiman dan pertanian, bukan untuk industri perusahaan,” tandas Dede.

Paska kejadian ini, ramainya limbah dari PT. SBI yang mengakibatkan kerugian warga petani entah disengaja ataupun karena kelalaian, Kades Dede menginginkan agar PT. SBI di tutup, dan kedepan ia akan terus berkordinasi dengan pihak-pihak terkait lainnya baik Camat, TNI-Polri, Dinas Lingkungan Hidup maupun Dinas Tenaga Kerja.
“Sebaiknya ditutup saja.

Kalau memang masih ingin berjalan, agar diselesaikan dulu izin lainnya yang sesuai dengan aturan perusahaan untuk industri. Selain itu, warga kami juga tolong diperhatikan, agar ada kepedulian sosial dari pihak perusahaan, CSR nya agar dikeluarkan,” tegas Kades.

Dari penuturan Kades selama ia menjabat, belum pernah pihak SBI turut peduli dalam sosial maupun pembangunan di wilayahnya.
Sementara itu, dari penjelasan petugas hubungan masyarakat (Humas) PT. SBI sekaligus mantan kepala desa yang lalu.

Ubuh Bukhori, Humas PT. Sanggabuana Berjaya Indonesia (SBI)

Ubuh Bukhori dalam keterangannya pada berita yang sudah terbit lalu, pihaknya mengakui bahwa kejadian ikan-ikan mati adalah kesalahan anak buahnya yang mencuci mesin menggunakan oli dan dibuang melalui pembuangan saluran air dari dalam PT, sehingga keluar mengalir mengenai empang dan pesawahan warga. Ia juga mengaku, memang PT ini berdiri pada saat ia menjabat Kades terdahulu, semata mata untuk membantu dan membuka lapangan pekerjaan bagi warganya. (Red)

%d blogger menyukai ini: