DP3SN Dorong Percepatan Revitalisasi TPST Bantargebang

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | TPST Bantargebang seluas 110,3 hektar jadi tumpuan pembuang sampah DKI Jakarta. DKI setidaknya mengirim sampah 7.200-7.500 ton/hari. Jumlah volume sampah sangat besar. Mungkin terbesar di Asean. Sekarang posisi semua zona sudah penuh sampah. Perlu upaya revitalisasi total, sebelum ITF terwujud di wilayah indoor. DKI berupaya keras untuk mewujudkan ITF atau TPST di sejumlah titik, namun tidaklah mudah.

Upaya pengolahan dan pengurangan sampah di tingkat TPST belum signifikan, meskipun ada sejumlah infrastruktur seperti pengomposan sampah organik, power house pemanfaatan gas sampah jadi listrik. Sebetulnya TPST juga punya infrastruktur daur ulang plastik. Pengurangan sampah anorganik yang cukup besar dilakukan pemulung dan pelapak sekitar 25-30%. Lebih dari 6.000 pemulung mengais sampah di sini.

Peran pemulung dan pelapak sangat besar dan strategis. Setidaknya mereka mampu ciptakan lapangan kerja dan income sendiri. Pemerintah dan Pemerintah Daerah harus mengakui dan melindungi keberadaannya. Kita percaya, baik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Tenaga Kerja bersama Pemda sudah mengakomodir dan menjamin secara legal keberadaan dan peran pemulung. Merupakan bentuk partisipasi dalam pengelolaan sampah, yang dimandatkan UUD 1945, UU No. 18/2008, PP No. 81/2012 dll.

Untuk mengatasi permasalahan sampah yang semakin banyak dan meninggi, Pemerintah Provinsi DKI bersama BPPT Kemenristik Dikti membangun Pilot Project PLTSa teknologi thermal atau semacam insicinerator kapasitas 100 ton/hari. Proyek ini sebagai pusat belajar dan penelitian. Kapasitas produksi olah sampahnya masih kecil, 100 ton/hari. Coba bandingkan dengan volume sampah yang masuk ke TPST Bantargebang?! Mestinya membangun beberapa plant jenis ini skala besar, per pkant berkapasitas 1.500-2.000 ton/hari.

Pemprov DKI dan pengelola TPST Bantargebang segera mengambil langkah-langkah terencana dan komprehensif. Pengelola TPST sedang melakukan revitalisasi. Pertama, melakukan redesain dan kajian daya tampung. Kedua, perlu melakukan perluasan lahan. Ketiga, perlunya pembangunan infrastruktur pengolahan sampah skala besar dan massif, seperti composting, plastik recyling, wood recycling, food recycling, metal and glass recyling, waste to energy (WtE), waste to material (WtM), dll. Merupakan suatu bentuk action plan atau master plan.

Pokoknya program tersebut dapat mengolah dan mengurangi sampah secara signifikan, pada 3-5 tahun pertama dapat mengurangi 40-50% dari total sampah yang masuk TPST. tahun 5-9 tahun dapat mengolah dan mengurangi 50-70% dari total sampah yang masuk ke TPS Bantargebang. Pemprov DKI dengan dukungan Pemerintah Pusat harus fokus pada revitalisasi TPST Bantargebang. TPST Bantargebang harus dirancang menjadi Eco Industrial Park. TPST jadi pusat pengolahan sampah multi-teknologi di Indonesia, bahkan dunia.

Dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup mulai ada kemajuan. Contoh 3 unit IPAS yang ada dioperasikan 24 jam. Juga pengujian lindi inlet dan outlet, air permukaan dan dalam (sumur warga), udara ambient, koloni lalat dan insect. Penanam pohon sebagai green-belt terus berlangsung. Pembuatan taman sebagai ruang terbuka hijau (RTH). Penataan sampah dan cover-soil sedang berjalanan. Pembangunan tempat pencuciaan kendaraan dan alat berat. Pembenahan workshop/bengkel dan pekerjaan lainnya.

Disamping itu perlu dipikirkan pembangunan galeri/hall untuk menampilkan berbagai ptestasi sukses yang telah dicapai. Kedua, TPST harus punya laboratorium untuk pengujian air, tanah dan udara. Pun harus punya laboratorium untuk pengujian kompos, laboratorium daur ulang plastik, laboratorium daur ulang kayu, laboratorium daur ulang glass/beling, dll. Semua itu supaya TPST Bantargebang semakin modern, canggih, dan punya kelas tersendiri.

Juga perlu dilakukan penyediaan sumur pantau baik sebelum maupun sesudah TPST. Keberadaan sumur pantau begitu penting untuk mengetahui tingkat pemcemaran air tanah. Kualitas lingkungan hidup dan kesehatan warga sekitar menjadi perhatian utama. Sumur pantau menjadi pekerjaan rumah dan itupun mudah dilakukan. DKI siap merealisasikan.

Disampaikan Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) dan Anggota Dewan Pengarah dan Pertimbangan Pengelolaan Sampah Nasional (DP3SN). Minggu (7/4/2019)

Pengelola TPST Bantargebang peduli terhadap warga sekitar dan Pemkot Bekasi. Setiap bulan dapat uang bau Rp 270.000/KK via bank online. Per triwulan dapat mencairkan di bank BJB. Warga sekitar dapat pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis ke Puskems terdekat di Kelurahan Cikiwul, Ciketingudik, Sumurbatu dan Bantargebang. Setiap kelurahan dapat dua unit mobil ambulance. Belum lagi warga sekitar dapat pelayanan air bersih dari sumur dalam, 150 meteran dengan anggaran Rp 5 miliar per titik. Pemerintah Kota Bekasi dapat dana kemitraan setiap tahun. Tahun 2019 dapat dana kemitraan Rp 500 miliar. Inilah yang disebut sampah membawa berkah!?

Upaya revitalisasi bukan hanya masalah pisik semata, tetapi pula yang berkaitan dengan manajemen dan prosedur pengawasan. Semua pegawai TPST digaji via bank DKI sistem online. Juga disiapkan Satber Pungli. Sehingga harus hati-hati dengan praktek suap, pungli, korupsi dan premanisme. TPST makin steril dengan ptaktek-praktek tersebut. Manajemen, pengendalian dan pengawasan TPST semakin ketat dan modern. Sehingga tata kelola TPST Bantargebang makin transparan, akuntabel dan berkelanjutan. (Red-FBN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *