Inilah Perbedaan Urusan Orang Besar Dengan Orang Kecil

60

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Orang besar karena kepangkatan, kekayaan dan networking-nya yang luas dengan lembaga dan orang penting. Sehingga menjadi sangat berpengaruh dan terpandang. Orang besar masuk dalam kategorial bourjuis, elite, patron, juga bisa bagian rulling class.

Hasil pengamatan dan catatan Bagong Suyoto, Ketua Umum Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Persampahan Nasional (KPNAS). Kepada awak media fokusberitanasional.com, Jum’at (31/5/2019). Mereka ini dapat juga dikategorikan sebagai tokoh, pemimpin, ketua dan pengurus Parpol, pengusaha besar/konglomerat, mantan jenderal dan pengurus lembaga penting di negeri ini. Pokoknya sebagai orang yang diperhitungkan sepak terjangnya. Mungkin punya jabatan di sejumlah lembaga, dan juga sebagai komisaris perusahaan besar.

Kesibukan orang penting ini, biasanya sudah ada yang mengatur karena punya sekretaris, asisten pribadi, pengawal pribadi dan sejumlah anak buah, bisa puluhan, ratusan, bahkan ribuan. Pagi, sore, malam melakukan rapat, seminar, konferensi pers, interview dengan media massa, lobi, dll. Mereka lakukan pengorganisasian massa, dst. Hidupnya selalu sibuk menggalang kekuatan dan akumulasi kekayaan. Bicaranya berkaitan dengan proposal dan proyek-proyek pertambangan seperti batu bara, migas, dll, kehutanan, perkebunanan, pabrik otomotif, pabrik semen, property, mall, dll. Bicaranya tentang investasi, bank, hutang, dll yang nilainya ratusan miliar hingga triliunan rupiah.

Dalam konteks politik dan kekuasaan, orang besar seringkali bicarakan bagaimana mendapatkan dan merebut kekuasaan. Dalam konstatasi Pemilu, seperti Pilpres bagaimana dapatkan suara sebanyak-banyaknya agar jadi Presiden. Pendampingnya jadi menteri, pejabat penting lembaga negara, dll. Jika persaingan kalah, akan marah dan mengumpat geram. Lalu menggunakan kata keras, seperti makar, people power, dll. Ego dan ambisinya semakin tampak ke permukaan. Bahkan belakangan yang sangat mengkhawatirkan gunakan istilah referendum. Artinya ada maksud untuk membentuk negara sendiri, pisah dari NKRI. Keinginan referendum sudah disuarakan di hadapan massa.

Bahasa dan istilah-istilah yang gunakan orang besar mampu pererat persatuan kesatuan dan kedamaian suatu masyarakat, bangsa dan negara. Juga bisa dimanfaatkan timbulkan kerusakan dan kehancuran suatu masyarakat, bangsa dan negara. Orang besar punya sumber daya, kekuatan dan pengaruh sangat besar untuk kebaikan, atau sebaliknya. Sehingga orang besar bisa saja membalikan fakta kebenaran menjadi sebaliknya. Atau bisa saja merasa paling benar di atas bumi ini meskipun massa dan orang kecil menjadi korban dan atau tumbal.

Orang besar dengan sumber daya dan kekuatan dapat menyuruh dan membayar orang untuk menciptakan angka-angka statistikal kemenangan secara meyakinkan. Bisa juga menghancurkan reputasi dan kredibilitas lawan-lawan politiknya. Bisa pula mengkredilkan, memberangus dan memenjarakan orang yang tak sepaham serta menentangnya. Dulu pernah ada istilah “buru”, “kejar”, “gebuk”, “seret ke penjara”, dll meskipun kita dalam negara demokrasi. Diksi yang dipilih seperti suasana darurat atau perang!

Berbeda dengan orang kecil bagian dari rakyat biasa. Orang kecil, punya berbagai julukan, wong cilik, orang awam, bagian kelas bawah yang hidupnya berhubungan dengan bagaimana cara mempertahankan hidup. Ia berpiki, bicara dan bekerja dengan metode sederhana dan sangat sederhana. Orang kecil diwarnai keluguan dan kelucuan.

Orang kecil melakukan aktivitas rutin, bangun pagi, mandi, terus ke tempat kerja, pulang sore atau malam hari, kemudian tidur. Jika ia petani, pagi-pagi berangkat ke ladang, mencangkul atau bersihkan rumput, jika capek istirahat di gubuk, membakar singkong atau talas sambil minum kopi manis. Dan menjelang sore pulang ke rumah. Bila punya ternak kambing atau sapi, petani merumput dan kayu bakar dulu, ditaruh di sepedahnya. Setiap hari ke ladang sampai tanamannya panen.

Beda juga dengan pemulung. Setiap hari membawa keranjang dan gerobak ke di TPST/TPA. Ia mengais sampah an-organik, seperti plastik, logam, beling, kertas, dll. Pada siang haris balik ke gubuk, istirahat untuk makan siang. Setelah itu kembali mengais sampah. Pada sore hari pulang membawa hasil sampah. Ada pula yang mengais sampah jam 19.00-05.00 Wib dan pagi hingga siang istirahat tidur. Kemudian, sampah dikumpulkan di depan gubuk. Keesokan harinya istri dan anaknya memilah sampah itu. Sesudah terkumpul 7-10 hari sampah ditimbang pada bos pemulung atau lapak. Mungkin hasilnya sekitar 800.000-1.000.000. Begitulah sirkulasi hidupnya.

Bagaimana dengan tukang dan kuli bangunan. Biasanya datang pukul 7.30 Wib, mulai kerja pukul 08.00 Wib. Bagi kuli bangunan, persiapan segala peralatan dan keperluan yang akan dikerjakan, seperti mempersiapan air, adukan semen, membawa bata merah yang akan dipasang oleh tukang, dll. Pada pukul 12.00-13.00 Wib istirahat untuk makan dan lainya dan kerja lagi sampai pukul 16.00-16.30 Wib. Ia dapat upah harian, Rp 100.000/hari, yang dibayar seminggu sekali.

Orang kecil berpikir dan berharap dapat makan cukup sehari tiga kali, dan ada yang hanya dua kali saja. Makan dengan menu alakadarnya, nasi beras pera, layuk sayur, ikan asin, tahu tempe dan sambal. Atau cukup dengan mie instan. Menu makan anak-anak sama yang dimakan orangtuanya.

Juga memikirkan uang jajan anak, uang saku dan kebutuhan sekolah, pakaian, dan biaya kesehatan. Karena seringkali income tidak sebanding dengan pengeluaran semakin besar akibat harga-harga kebutuhan pokok dan kebutuhan lain terus meroket. Akibatnya hutang dan berhutang ke rentenir, sekarang dikenal “bank emok”. Gali lubang, tutup lubang begitulah istilahnya.

Itulah nasib orang kecil bagaimana caranya melangsungkan kehidupan besok hari diri dan keluarganya. Sebagian orang kecil melalui pasang surut kehidupan penuh ratapan dan kesedihan penuh cucuran air mata. (red**)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini