08/16/2022
Post Visitors:39

FBN – Kampar, Riau || Jumat (25/12/20) Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RRTLH) di akhir tahun 2020. dengan ukuran rumah panjang 6.50 cm Lebar 5.40 cm serta tinggi 2.50 cm diduga terkesan ada mark’up. Pantauan awak media 24/12/20 baru seumur jagung pembangunannya sudah banyak yang retak.

Pemilik rumah inisial (EN) kelahiran tahun 76 warga Desa Padang Mutung RT. 002 RW. 002, Dusun Padang Mutung, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, menuturkan kepada salah team media Group bahwa dirinya mengaku sebagai salah satu warga penerima bantuan rehabilitasi rumah dengan anggaran sekitar lima belas juta rupiah.

Tidak itu aja bangunan rehabilitasi rumahnya hanya depan dan juga samping saja. Ia sebelumnya pernah mengajukan ke Dinas Perumahan Permukiman Kabupaten Kampar (Perkim) untuk bantuan rumah layak huni, tapi sayangnya hanya bantuan rehabilitasi yang ia dapatkan sekarang.

Sewaktu rumah layak huni keluar di Desanya, nama Bu EN diduga digeser dengan nama orang lain yang baru berdomisi di desa itu, penjelasan beliau.

Sementara dana rehabilitasi rumah langsung diolah oleh Shaiful selaku Kepala Desa Padang Muntung hingga satu persen pun Bu EN tidak memegang uang, kayu balok hanya enam batang yang diganti, sisanya memakai kayu balok dan pondasi yang sudah lama ia bangun.

Lanjut ia menjelaskan, “Bukan itu aja pengakuan sang tukang kepada Bu EN, upah dua juta lima ratus ribu rupiah sementara kades mengatakan kepada Bu En empat juta rupiah.”

Kades Padang Muntung sewaktu salah satu team media group mempertanyakan sumber dananya darimana melalui whatshapp, “Silahkan diskusi sama Sekretaris PUPR saja, saya dari awal sesuai petunjuk beliau,” ujarnya.

Hal sedana dikatakan salah seorang warga setempat yang enggan disebut namanya mengatakan, “sewaktu pengerjaan rehabilitasi rumah Bu EN tidak ada memasang papan informasi, sumber dananya darimana, saya tidak tau,” jelasnya.

(JHarianja)

%d blogger menyukai ini: