08/14/2022
Post Visitors:37

FBN – JAKARTA || Kasus penghinaan dan pencemaran nama baik melalui media elektronik yang tercantum di SIPP On Jaktim dengan nomor 348/Pin.Sus/2020/PN.Jkt.Tim kembali disidangkan di PN Jakarta Timur.

Sidang dengan terdakwa Jaitar Sirait, SH yang digelar ini, hadir Arist Merdeka Sirait, pegiat Aktivis Hak Asasi Manusia (Indonesian Human Rights Defender Activist) di Indonesia.

“Tindakan Jaitar sungguh-sungguh tidak mendasarkan pada fakta sejarah asal-usul dari keturunan marga (Toga) Sirait beserta unsur kebenarannya. Jaitar mengabaikan identitas, nama dan asal usul seseorang. Jaitar gagal paham terhadap struktur dan asal usul keturunan marga Sirait, khususnya keturunan oppu Raja Mardubur,” kata Arist angkat bicara di PN Jakarta Timur, Kamis (27/8/2020).

Pertikaian semarga melalui medsos ini sudah dicoba dijembatani melalui Ketua Umum Sirait dan Boru Jabodetabek Marojahan Sirait, SH dan kerabat dekat satu marga. Kan tetapi hingga saat ini belum ada hasilnya.

“Apa hak seorang Jaitar menyatakan bahwa Arist Merdeka bukan marga Sirait dan atau Oppu Raja Mardubur bukan anak dari ketururan oppu Raja Sirait?” tanya Arist.

Sisi lain pria berjanggut ini menyayangkan bahwa sesungguhnya Jaitar telah merendahkan martabatnya sebagai marga Sirait. “Apa sesungguhnya di cari Jaitar dalam perkara ini,” imbuhnya.

Persidangan yang di Ketuai Majelis Hakim Sri Asmarani, SH, CN dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Handri Dwi SH, berjalan kondusif.

Dalam persidangan sebelumnya, JPU Handri Dwi menuntut terdakwa dengan pasal 27 ayat (3) Jo pasal 45 ayat (3), UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau pasal 310 ayat (2) atau pasal 311 ayat (1) Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan ancaman hukuman minimal 12 tahun penjara.

“Sesungguhnya perkara ini tidak perlu berurusan dengan Pengadilan jika Jaitar sebagai darah seorang putra keturunan Sirait tidak egois dan tidak gagal paham terhadap struktur dan asal usul marga (toga) Sirait. Berakibat ia (Jaitar) terancam menjalani pidana penjara,” tutup Arist Merdeka Sirait yang sekaligus Tim Advokasi dan Litigasi Oppu Raja Sirait.

Seperti diketahui persidangan sebelumnya
diruang sidang Mudjono PN Jakarta Timur, Kamis (13/08) lalu, Jaksa menghadirkan ahli bahasa Indonesia, Danardana.

Keterangannya, dimuka persidangan, ahli menyatakan bahwa, kata ‘penipu tarombo’ yang diposting di facebook memang bernada menghina.

“Bila ada yang keberatan atas unggahan tersebut, maka bisa dikatagorikan menjadi penghinaan,” ucap ahli. Bersambung… (Rilis/Red)

%d blogger menyukai ini: