12/03/2022
Post Visitors:80

Sidoarjo – FBN |Penyebaran Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 berdampak sangat hemat terhadap perekonomian para wartawan untuk kehidupan sehari-hari.
Ditambah dari pemerintah Pusat, Provinsi dan Daerah menerapkan kebijakan Karantina Wilayah, mewajibkan semua warga harus tinggal di rumah (Stay at Home), jaga jarak fisik (Pyshical Distancing) melakukan pekerjaan dari rumah (Work from Home), dan Anak sekolah di liburkan dan di wajibkan siswa belajar dari rumah (Online Learning).

Dari berbagai kelompok warga mungkin kebijakan Lock Down atau karantina mandiri tidak begitu merepotkan, bagi mereka yang berstatus sebagai pegawai pemerintah atau perusahaan, walau kepegawaian di level rendahan sekalipun, masih memiliki harapan mendapatkan tunjangan hidup sehari-hari minimal gaji bulanan,” Ucap mas Edwin Rio Yudha Diarja yang berprofesi sebagai Wartawan

Namun sebagian masyarakat lainnya yang harus tinggal di rumah (Stay at Home) sangat merisaukan bagi karyawan atau buruh pabrik, pedagang kaki lima, ojek online dan sebagian masyarakat yang kehidupannya berharap dari kerja harian sering dengan sebutan Padat Karya, ada tenaga ada biaya (upah/gaji). Uang yang di dapat cukup untuk biaya hidup dari hari ke hari. Dapat uang hari ini habis hari ini juga kadang justru tidak cukup!!!,” jelas mas Edwin Rio Y.D.

Dan Mas Edwin Rio Y.D. pun mengatakan, “Tak terkecuali para pekerja kuli Tinta pada saat ini, Kehidupan mereka juga sangat memprihatinkan, sehari-hari dengan pendapatan seadanya. Taraf perekonomian para jurnalis tergolong di bawah pra-sejahtera. Jangankan untuk menabung, pendapatan sehari-hari saja cukup untuk keluarga sudah Alhamdulillah itupun kalau dapat rilisan Berita.

Jikapun ada wartawan yang sejahtera, bisa jadi mereka adalah pemilik media atau jurnalis yang mempunyai bisnis di luar jurnalistik contoh saja Kompas yang memiliki ratusan wartawannya, di samping memiliki jaringan bisnis non jurnalistik seperti properti, perhotelan, pertambangan mungkin masih banyak juga yang di kelola.

Media nasionalpun yang besar pola pemberian gaji bagi wartawan tentu tidak sama tergantung kinerja wartawan itu sendiri. Sedangkan kita jurnalis di daerah-daerah yang hanya bermodal Idealisme dan semangat empat-lima, bermodal sebuah HP Android untuk merekam, mengambil foto sang Narasumber dan objek wisata berita tentunya tidak akan mendapatkan hasil yang cukup.

Wartawan tak akan putus asa apalagi mengeluh dengan kondisi apapun, terlebih mengemis ke instansi pemerintahan, idealisme seorang wartawan siap hidup menderita itu kunci utama.

Jurnalis sejati akan bergerak menggalang kekuatan dalam mengatasi masalah yang di hadapi masyarakat.
Kami/kita hanya lantang suara ketika memperjuangkan rakyat, tapi diam seribu bahasa di saat bicara nasib hidupnya sendiri.

Pemerintah sudah semestinya tidak melupakan kalangan jurnalis wajib diayomi dan di lindungi hidupnya. Kami bekerja menyajikan berita dan edukasi kepada publik tanpa kenal lelah. Anak, istri, keluarga sering di tinggalkan demi tuntutan profesi.(edwin/rio)

%d blogger menyukai ini: