oleh

Kisah Pilu : Janda Muda Dua Anak di Pidie Jaya Tinggal di Gubuk Reyot

FBN # Pidie Jaya – kisah Pilu Nadinatul Husna seorang janda muda mempunyai dua orang anak yang bersamanya di gubuk reyot, yang sedang viral di media sosial (medsos) dan menjadi sorotan dalam dua hari terakhir ini, Warga Gampong Deah Ujong Baroh Peulandok Kecamatan Trienggadeng Kabupaten Pidie Jaya Sabtu (1/5/2021).

Hadir dalam kegiatan tersebut untuk melihat langsung kerumahnya l, Rakan media bersama Komunitas Peduli Anak Yatim dan Dhuafa (KPYD), Komunitas Pijay Gleeh (KPG) dan IJTI Kabupaten Pidie Jaya menyambangi kediaman janda

Kedatangan awak media dan komunitas juga berbarengan dengan petugas dari Baitul Maal Pidie Jaya yang juga mengecek kebenaran informasi yang tersebar di medsos.

Kisah pilu seorang janda muda beranak 2 (dua) yang tinggal di sebuah gubuk reyot dibelakang rumah keluarganya, janda berumur 32 tahun ini tinggal di sebuah rumah tidak layak huni selama hampir enam tahun lalu.

Dalam pantauan wartawan, Saat disambangi, tampak rumah janda muda dua anak ini berada sekitaran 200 meter dari Meunasah gampong ke arah barat, tepatnya di dekat sawah pigiran gampong. Untuk menuju rumah tersebut saja harus melewati jalan setapak yang sempit melaui sumur tetangganya.

Maka dalam kesempatan ini Koordinator KPYD Pijay, Bripka Jhonny Rahmad mengatakan, kunjungan kami ini hanya sekedar peduali dan perihatin dengan kodisi yang dialami oleh janda muda dua anak tersebut. “Kami hanya hanya membawa sedikit sembako untuk keluarga itu agar sedikit terbantu untuk tetap bertahan hidup seadanya di tengah pandemik sekalipun,” ujar Bripka Jhoni.

Sementara sehari-hari Nadinatul Husna bersama dua anaknya Masna Khaira (7) Perempuan masih dibangku kelas 1 SD, sedangkan satu lagi Muhammad Alfi (3) Laki-laki tinggal di rumah berukuran 3×6 meter dengan kondisi rumah dinding tepas, dan beratap daun rumbia dari rumah tua bekas keluarganya. Kamar tidur, ruang makan, ruang tamu dan dapur menjadi satu.

Pencarian sehari-hari menafkahi dua orang anak menjadi buruh harian lepas di salah satu gudang sirup Keudee Trienggadeng, dengan gaji Rp40.000/hari. Setiap harinya ia harus menempuh jarak tempat bekerja lebih kurang 2,5 km serta berkerja dari jam 8.00 sampai 17 Wib sore,” terang Nadinatul Husna.

“Saya pergi kerja biasanya diantar oleh ayah saya, terkadang saya diboncengi kawan satu kerjaan, anak saya yang nomor dua ketika saya kerja tinggal bersama orang tua, terkadang pula ikut bersama saya ketempat kerja”.

Lanjutnya, Anak pertama saya tinggal bersama mertua saya (orang tua mantan suami saya-red) dan anak kedua saya tinggal bersama saya digubuk yang reot ini. Sebelum pisah kami juga tinggal tidak menetap, pernah tinggal di Meuraksa Kecamatan Meureudu dan juga di Samalanga Kab. Bireuen karena suami saya hanya buruh.

Kemudian saya pisah dengan suami sejak 2018, dan tinggal ditempat ini lebih dari 5 tahun yang lalu dan tidak tau mengadu kepada siapa-siapa, saya bekerja berkerja semata-mata untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi sayang selama puasa saya baru bekerja 7 hari saja. Selama ini saya tidak mendapatkan bantuan apa-apa selain BLT DD di gampong,

Tambahnya lagi, Pada pemerintah saya tidak ada harapan sama sekali, saya buka pendatang tapi sejak lahir disini. Sebenarnya tidak perlu saya melaporkan kemana-mana pihak gampong bias melihat sendiri keadaan yang saya rasakan. Namu uluran tangan dari yang mampu sangat saya butuhkan demi menjalani hidup ini. Semoga Allah SWT yang mengabulkannya,” pungkas Nadia Husna. ( Wanis Pijay)

Komentar

Fokus Berita Nasional