oleh

KUD Bale Yotro Beloyang Gelar Acara Penumbangan Perdana Program PSR

FBN # Melawi,Kalbar – Petani atau pekebun sawit kini bisa bernafas lega. Pasalnya, pemerintah telah memberikan program bantuan untuk Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui koperasi atau lembaga asosiasi kelompok petani sawit.

Koperasi Unit Desa (KUD) Bale Yotro Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi merupakan salah satu penerima program PSR tersebut. Hal ini disampaikan langsung oleh Ketua KUD Bale Yotro, YS Marjitan dalam acara penumbangan pertama program PSR di Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi, ” Kamis (29/7/21).

Hadir pada kesempatan tersebut, Bupati Melawi diwakili oleh Plh. Asisten Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat, Suminggar Siringgo Ringgo, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan, Daniel, Waka Polres Melawi, Kompol Agus Mulyana, Dinas Koperasi UMKM Kabupaten Melawi dan Kepala Cabang Bank BNI 46 Kabupaten Melawi, Pimpinan PT SDK, Fokopimcam Kecamatan Belimbing Hulu dan Kecamatan Belimbing, Tokoh Agama dan Tokoh masyarakat, Tokoh Adat,Kepala Desa Tetangga (Guhung, Tiong Keranjik) serta Ketua Kelompok Tani Hamparan (KTH) KUD Bale Yotro.

Ketua KUD Bale Yotro, YS Marjitan dalam laporannya menyampaikan, program PSR dicanangkan oleh Pemerintah pusat pada tahun 2016. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi dalam program PSR tersebut. Karena program ini melibatkan banyak pihak dan dibawah pengawasan KPK.

“Ada sekitar 7 tahapan proses pengajuan lahan PSR oleh KUD Bale Yotro. Saat ini sebanyak 999.1 ha dari 1000 hektat yang kami diajukan. Yang lolos administrasi sebanyak 929 hektar, tidak lolos sebanyak 11 peserta, yg tidak ikut sejak awal 2 peserta. Yang lolos administrasi bukanlah rekayasa melainkan berdasarkan penilaian 3 pihak dalam MoU ini”. Pungkas Marjitan,

YS Marjitan juga menyampaikan, dalam perjalanannya, sebanyak 261 hektar dari sekian pemilik lahan yang ragu ragu dan mengundurkan diri. Sehingga tersisa 668 hektar. Namun proses replanting harus tetap berjalan, ia juga mengingatkan kepada masyarakat yang masih ragu harus melihat dan mempertimbangkan kembali pilihan tersebut, namun dirinya tidak juga bisa memaksakan.

“Peremajaan sawit ini bukanlah hal yang mudah dilakukan secara tradisional dengan peralatan seadanya. Perlu suatu alat tersendiri agar proses PSR dapat berjalan secara cepat, tepat dan terukur. Program ini akan terus di monitoring oleh pemerintah pusat, mulai dari proses penanaman hingga buah sawit yang dihasilkan harus dilaporkan sesuai syarat kesepakatan program dengan para pihak”. Imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Melawi melalui Plh Asisten Bidang Ekonomi dan Kesejahteraan Rakyat, Suminggar Siringgo Ringgo menyampaikan permohonan maaf Bupati Melawi yang tidak bisa hadir pada acara ini. Namun dirinya meyakinkan bahwa Bupati sangat mendukung program PSR yang merupakan kebijakan pusat ini untuk kesejahteraan petani sawit khususnya.

Dirinya juga mengingatkan kepada camat agar membantu untuk pemulihan ekonomi sementara waktu bagi petani sawit selama masa replanting (penanaman kembali) dengan menyurati Bupati agar bisa dibantu kegiatan ekonomi alternatif bagi petani. Ia juga berpesan kepada pemerintah desa atau KUD agar menjalankan amanah ini sebaik mungkin untuk kesejahteraan masyarakat.

“Berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa program ini sangat baik untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya petani kelapa sawit”. Ujarnya.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan, Daniel menyampaikan program PSR ini merupakan program langsung dari pemerintah. Program PSR merupakan angin segar bagi petani kelapa sawit dalam keberlanjutan perkebunan kelapa sawit yang dimiliki petani. Ada 4, 7 juta hektar dari 11, 3 juta hektar lahan se indonesia yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat, ini merupakan implementasi dari UU 1945 pasal 33.

“Masyarakat jangan termakan isu yang tidak benar terkait replanting ini. Karena tidak mudah untuk melakukan peremajaan sawit. Oleh karena itu pemerintah memberikan program ini kepada masyarakat agar membantu percepatan pertumbuhan ekonomi khususnya di bidang perkebunan kelapa sawit”. Pungkasnya.

Fian salah satu masyarakat penerima manfaat PSR mengatakan dirinya sangat terbantu dengan adanya program ini. Ia tidak dapat membayangkan jika harus melakukan peremajaan sendiri, tentu akan menyerap biaya lebih besar lagi dan waktu yang lama.

“Saya tidak bisa membayangkan jika harus menumbangkan pohon sawit secara manual. Akan menyita waktu, tenaga, biaya dan pikiran agar lahan bisa ditanami kembali. Saya ucapkan terima kasih kepada Pemerintah Pusat yang telah memberikan bantuan serta kepada pemerintah desa Beloyang, khususnya KUD Bale Yotro yang telah bersusah payah memfasilitasi kemudahan bagi anggotanya”. Ucapnya.

Acara kemudian Penumbangan pohon dilaksanakan dengan upacara adat Dayak linoh, yaitu Acara adat ngumpan tanah. Sebagai salah satu bentuk kepercayaan masyarakat adat agar hasil pertanian maupun perkebunan mendapat hasil yang baik dan mendapat berkah sang pencipta.

(Dk)

Komentar

Fokus Berita Nasional