11/27/2022
Post Visitors:55

FBN – Gunungsitoli, Sumatra Utara || melindungi, mengayomi, serta memberikan tindakan perlindungan hukum bagi masyarakat hal ini terlihat jelas dari apa yang dilakukan oleh saksi korban penganiayaan LDZ yang memberikan dukungan penuh kepada korban dan kesaksian di Polres Nias melalui penyidik 12 Oktober 2020 yang lalu.

Kejadian yang menimpa korban penganiayaan secara bersama-sama terhadap LDZ minta penegak hukum tidak merekayasa dan tidak membalikan fakta hukum karna hal ini sudah mengendap cukup lama di mapolres nias namun sampai sekarang tidak ada ketegasan hal tersebut disampaikan puluhan saksi korban kepada media ini (24/10/2020) kemarin sore.

Salah seorang saksi korban LDZ meminta penyidik dapat bekerja secara profesional dan mengayomi masyarakat kecil, apalagi korban masih duduk dibangku sekolah sehingga mengalami trauma terhadap kejadian yang telah menimpanya, Ujarnya.

pada Peristiwa kejadian 01 September 2020 sekitar pukul 20:00 wib di Areal Pelabuhan Angin Gunungsitoli saat itu banyak yang menyaksikan atas pengeroyokan dan penganiayaan secara bersama-sama yang dilakukan ke-3 (tiga) orang pelaku yakni EW, KW dan MH, korban LDZ dipukul, diinjak bertubi-tubi hingga tersungkur jatuh ditanah, mengalami benjol-benjol menghitam disekucur tubuhnya, dan pada malam itu juga datang di RSUD Gunungsitoli mengambil visum dan melaporkan di Polres Nias, walaupun pada keesokan harinya baru kembali melaporkannya atas petunjuk pihak Polres Nias, karena korban LDZ saat itu masih mengalami traumatik dan dan belum stabil kesehatannya.

Saksi korban menambahkan Penanganan kasus ini sangat aneh, betapa tidak pasalnya lama sekali diproses hingga satu bulan lebih baru ditindaklanjuti oleh penyidik, kemudian banyak kejanggalan lain dengan munculnya surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tanggal 05 Oktober 2020 dimana korban dijadikan terlapor kembali, kuat indikasi bahwa kasus tersebut tidak bisa dikerjakan pihak penyidik secara profesional”, tambahnya.

Sementara korban LDZ yang saat ini duduk di kelas IX SMP merasa tidak terlindungi dengan payung hukum dan masalahnya seperti diobok-obok oleh oknum tertentu.
LDZ yang sempat diwawancara media ini memohon kiranya Bapak Kapolres Nias dapat menangkap para pelaku penganiayaan secara bersama-sama terhadap dirinya dan meminta perlindungan ketegasan hukum sesuai yang berlaku, dan kasusnya jangan direkayasa oleh oknum penyidik, harapnya.

Belum lama ini, sejumlah wartawan di salah satu wadah komunitas kecil termasuk media ini, saat mengkonfirmasi peristiwa kasus KUHPidana psl (170) dan (351) yang menimpa LDZ, Kapolres Nias AKBP Wawan Irawan “menerima surat pernyataan sikap sejumlah saksi korban dan berjanji untuk menindaklanjuti penaganan kasus tersebut dengan secepatnya.

M harefa.

%d blogger menyukai ini: