01/28/2023
Post Visitors:117

KARAWANG – FBN || Sebagai seseorang yang aktif disebuah lembaga swadaya masyarakat yaitu Lsm Laskar NKRI, diluar tugas sebagai kontrol sosial ternyata Mirta mempunyai keahlian yang tidak semua orang bisa memilikinya dalam membuat sebuah perahu untuk mencari ikan, kepiting maupun udang dilaut utara karawang desa tambak sari kecamatan tirtajaya. Minggu (13/09/20)

Dalam pembuatan sebuah perahu tersebut Mirta mengatakan berhubung desa saya dipinggir laut, saya melihat potensi laut itu harta karun. Jadi saya membuat perahu untuk kegiatan mencari ikan, udang dan kepiting. Ucap Mirta saat media menyambangi rumahnya didesa tambak sari kecamatan tirtajaya.

Perahu yang sudah hampir setengahnya terbuat, terlihat kerangkanya sudah kokoh dan rapi dengan panjang delapan setengah meter dan lebar satu meter enam puluh. Mirta mengatakan bahwa pembuatan perahu tersebut bisa menghabiskan biaya sampai tujuh juta rupiah hingga selesai dan dilapisi fiber.

Saat diwawancara oleh media, Mirta mengatakan saya orang yang sangat bebas dalam berpikir kehidupan. Maka saya dilembaga merasa bersyukur dan terhimpun. Kalau enggak ada lembaga mungkin saya menjadi preman jalanan. Tapi setelah dilembaga saya dididik karena dilembaga juga banyak orang yang pandai yang punya IQ, yang punya SDM tinggi.

Maka saya kembali lagi ke daerah untuk menggerakkan harus bagaimana ditempat sendiri mendapatkan duit, mendapatkan hasil, tidak sampai mengotori kelembagaan tersebut. Maka saya disini mau bikin jari kepiting, mau bikin perahu untuk kedepan. Karena ini masa masa jaman sekarang yang namanya corona, kita tidak bisa bebas kemana mana, saya potensikan itu. Laut itu mungkin dalam bahasa kata, harta Karun itu dilautan. Tegasnya kepada media saat wawancara.

Masih kata Mirta melanjutkan pembicaraannya kepada media, adapun harapannya kedepan, saya terhimpun dari lembaga itu mungkin orang-orang yang kurang ber SDM, tapi semuanya mempunyai potensi dalam mencari uang. Disini kita akan menggalakan anggota saya suatu saat untuk berangkat kelaut mencari kepiting dan ikan. Agar mengurangi rasa premanismenya, tapi kebersamaan kami dilembaga tidak akan kami tinggalkan. Karena kami terdidik dan dididik oleh ketua umum kami H.ME Suparno/uwa. Saya dididik kebersamaan tapi kosolidan tetap dijaga.

Cintailah orang orang seperti kami, tegas Mirta kepada media. Yang kaya tidak mungkin suruh saya kerja karena saya golongan jawara kalau kata dulu, tapi saya punya keluarga. Makanya aparatur negara, aparatur desa, jangan menganggap sepele kepada orang orang seperti ini. Ayo kita didik bersama, carilah dan buatlah lapang lapangan kerja apapun itu bentuknya, apapun itu bidangnya asal benar-benar harus bisa dibidangi oleh orang-orang tersebut seperti saya.

Lembaga itu benar, lembaga itu kontrol sosial sistemnya, tapi kita tidak perlu untuk mengontrol saja. Kita dikontrol oleh masyarakat yang mempunyai kewibawaan seperti kepala desa, ataupun negara atau pemerintah setempat, bupati atau gubernur, harus mengontrol kami kami ini. Jangan sampai kami ini menyapir, meminta memohon, menggerus orang-orang yang tidak baik. Kami juga merasa tahu antara halal dan haram, atau tahu bentuk-bentuk yang baik dan tidak baiknya. Tapi kami juga perlu dibina dan diurus. Kembali lagi sekali lagi, kami tidak mungkin orang kaya nyuruh kami kerja kuli, karna tau siapa karakter kita, Tapi kita ini perlu makan perlu perubahan.

Pesan saya cuman satu untuk anggota anggota yang lainnya, junjung tinggi moralitas, junjung tinggi kebersamaan. Karena tidak ada kekuatan didalam kebersamaan, ada kekuatan asal ada kebersamaan. Yang penting saling menjunjung kehormatan, hormatilah baju kita walaupun apa lambangnya, mau RT mau RW, mau Lsm, mau Lurah hormatilah baju kita. Karena baju adalah harga diri kita, jadilah orang baik karena hidup hanya sekali. Ucap Mirta menutup pembicaraannya kepada media FBN.

(Unay Clozaril)

You cannot copy content of this page

%d blogger menyukai ini: