Masalah PLTSa SUMURBATU Menjadi Buah Bibir

59

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Ada apa ribut-ribut tentang masalah PLTSa atau incinerator di TPA Sumurbatu milik Pemerintah Kota Bekasi? Tampaknya ada upaya ingin mengusir perusahaan yang mengelola incinerator tersebut?! Mungkin tak ada untungnya buat Pemkot Bekasi? Mungkin mau bikin proyek baru?! Lalu menggunakan kekuatan bayangan menyalahkan dan memojokannya.

Bagong Suyoto, Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) saat berbincang dengan awak media Fokus Berita Nasional.com. Kamis (2/5/2019). Bukankah proyek incinerator itu diresmikan oleh Walikota Bekasi? Bukankah perusahaan pengelola sudah punya surat perjanjian kerjasama? Apakah memang perusahaan itu melakukan wanprestasi?

Banyak pertanyaan sangat penting yang harus diajukan kepada perusahaan dan Pemkot Bekasi. Apakah ketika awal mau membangun incinerator sudah melakukan Studi Kelayakan (FS)? Apakah sudah menyusun Amdal? Apakah masyarakat terkena dampak dilibatkan dalam penyusunan Amdal? Apakah perusahaan dan Pemkot Bekasi sudah melakukan sosialisasi kepada warga sekitar, dan menjelaskan dampak-dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat? Juga apa manfaatnya untuk masyarakat sekitar?

Apakah pihak perusahaan sudah menjelaskan pada masyarakat tentang baku mutu udara yang diperkenankan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI atau misal standar Uni Eropa? Apakah teknologi tersebut layak dan punya sertifikasi baik tingkat nasional dan internasional? Apakah ada lembaga penelitian yang libatkan disini?

Kita pingin tahu baku mutu emisi buang kegiatan incinerator atau tungku bakar TPA Sumurbatu? Misal, total partikulat, sulfutdioksida (SO2), oksida nitrogen (NOx), hodrogen klorida (HCl), merkuri (Hg), karbon monoksida (CO), hidrogen florida (HF), dioksin furan. Kemudian pengendalian residu pengolahan berupa abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash). Juga sistem pengolahan air limbahnya? Semua itu harus dijelaskan pada warga sekitar?!

Selama proses pembangunan incinerator TPA Sumurbatu tampaknya ada informasi yang disembunyikan? Sungguh suatu cara yang konyol dan berbahaya ketika jaman transparan sudah berkembang luar biasa. Semu warga sekitar berhak tahu, itu dijamin oleh peraturan perundangan.

Sebetulnya, saya tidak tahu persis berapa besar jumlah volume sampah yang dapat dibakar per harinya? Menurut informasi warga, hanya beberapa kwintal per hari dan incinerator tidak dioperasikan setiap hari.

Warga tidak tahu persis apa tujuan pembangunan incinerator TPA Sumurbatu? Informasi yang diperoleh untuk mengurangi sampah yang masuk ke TPA, tidak pakai tipping fee, dll. Sebetulnya tujuan awalnya sudah tidak jelas, kemudian fakta lapangan memusingkan kepala, seperti proyek hantu belang?!

Pertama, incinerator plant yang dibangun tidak menunjukkan model incinerator dengan teknologi modern, canggih dan mampu mengolah sampah secara massif, misal 1.000-1.500 ton/hari. Performance plant tampaknya tidak mengindikasikan memenuhi standar nasional dan internasional. Boleh jadi pembangunan incinerator itu hanya menuruti kehendak hati sendiri.

Kedua, ternyata incinerator TPA Sumurbatu tidak membantu mengurangi sampah. Buktinya gunung-gunung sampah bertambah tinggi. Artinya, jumlah volume sampah yang dibuang ke TPA konstan, 1.000-1.500 ton/hari atau malah bertambah banyak. Keberadaan incinerator itu malah menambah ruwet pengelolaan TPA Sumurbatu?!

Ketiga, buktinya karena gunung-gunung sampah semakin ketika hujan terjadi longsor. Ingat TPA Sumurbatu longsor pada 22 April 2019. Zona-zona TPA sumurbatu beberapa kali longsor karena bebannya terlalu berat.

Keempat, ternyata warga Sumurbatu mulai resah karena asap pembakarannya mengeluarkan asap hitam pekat. Apakah cerobong pembakaran itu sudah memenuhi standar? Warga sangat khawatir terhadap pencemaran udara, terutama dioxin-furan dan akibat debu. Hal ini akibat pembakaran tungku bakar yang tidak sempurna di bawah 800 derajat celcius. Sudah dapat diduga itulah disebut Tungku Bakar.

Jika dibiarkan Tungku Bakar berlanjut menjadi bentuk pelanggaran luar biasa. Namun, tampaknya Pemkot Bekasi tutup mata!! Jika berdiam diri saja berarti Pemkot Bekasi membiarkan pencemaran lingkungan bebas. Pemkot Bekasi harus mengambil sikap tegas menghentikan operasional tungku bakar! (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini