Memperkuat Nasionalisme dan Keutuhan Indonesia

54

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Sejarah Indonesia sudah terlalu panjang untuk dibicarakan dalam waktu singkat. Banyak endapan dan peristiwa-peristiwa menyayat hati yang sudah terlupakan, dan dianggap tidak begitu penting. Mungkin, kita berada pada abad mellennial. Sekarang sedang perjuangkan tujuan dan target implementasi Millennium Development Goals.

Dikatakan Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS). Minggu (19/5/2019). Kita perlu menengok ke belakang dan merefleksi berbagai sejarah masa lalu. Para pakar sejarah sudah merekamnnya, namun belum semuannya, masih ada yang terlupakan. Begitulah dunia fana ini, sementara kita selalu ingin perubahan lebih baik.

Coba kita baca buku George McTurnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia (Cornell University, 1955 dan 2013), pengantar Audrey Kahin. Perjuangan bebas dari penjajahan Belanda, Jepang, kemudian masa agresi militer Belanda, strategi gerakan kesatuan, deklarasi kemerdekaan, dll. Merupakan fase panjang sangat melelahkan dan membutuhkan pengorbanan sangat besar, sumber daya dieksploitasi penjajah dan banyak nyawa melayang. Pada masa-masa itu tidak ada kebebasan dan kesenangan hidup.

Pada saat Indonesia merdeka Agustus 1945 mulai muncul nafas kebebasan. Nasionalisme makin tumbuh, tetapi berat tantangnya. Indonesia mempunyai sumber daya alam melimpah dengan berbagai tumbuhan endemik, tanaman obat-obatan, pangan, dll. Rempah-rempah dari Indonesia sangat populer di pasar Eropa dan dunia, seperti lada, kopi, cengkeh, pala, bahkan teh, dll. Indonesia adalah surga dunia. Belum lagi potensi pertambangan, yakni minyak bumi, batu bara, timah, besi, emas, dll. Indonesia juga sangat kaya dengan berbagai hasil laut.

Maka negara-negara barat melirik Indonesia, menjadi sangat cinta Indonesia. Hal ini terjadi tahun 1950an, pemerintah dan pengusaha dari Eropa (Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, dll), Amerika dan Jepang menaruh hati terhadap eksplorasi berbagai sumber alam, terutama pertambangan dan kehutanan. Ketika nasionalisme Indonesia semakin pintar maka negara barat berupaya menumbang rezim Soekarno yang baru tumbuh. Dan pada tahun 1970an, Amerika Serikat dan sekutunya semakin kuat di Indonesia. Barat merupakan sahabat dan partner utama di Indonesia. Maka tidaklah salah kapitalisme dan neokapitalisme tumbuh subur di Indonesia. (Richard Robinson, Indonesia: The Rise of Capital, 1986). Merupakan cerita sukses kapitalisme abad ke-20. Pakar lain menyebutnya, Indonesia menjadi satelit/periperial dari kapitalisme dunia.

Sejak kejatuhan pemerintahan Soekarno diganti rezim baru, populer dengan Orde Baru. Pada masa panjang, 32 tahun, militer mengendalikan segala urusan, termasuk dalam bisnis. Banyak pakar dari berbagai negara seperti Amerika, Australia, dll melakukan studi tentang peran militer dalam keamanan, politik, ekonomi/bisnis, dll. Mereka mengatakan semua demi pembangunan dan nasionalisme.

Belakangan mulai muncul investasi dari negara-negara Timur Tengah. Meskipun orang Timur Tengah masuk ke nusantara sebelum berdirinya kerajaan Islam pertama di Pasai, Aceh. Bangsa Arab dan Gujarat India melakukan perdagangan dan penyebaran agama Islam. Mereka ini pada perode-periode berikutnya banyak membantu perjuangan rakyat Indonesia atas penjajahan Belanda dan Jepang. Menjelang kemerdekaan Indonesia, banyak diantara mereka memberi dukungan tenaga, pikiran dan harta.

Setelah pemerintah Orde Baru jatuh tahun 1998/199 dengan berganti baju, muncullah Orde Reformasi. Sejumlah pemerintah bergantian memegang tampuk kekuasaan. Dan tahun 2014 terjadi Pemilu langsung, lahirlah Presiden-Wakil Presiden Baru, yakni Jokowi-Jusuf Kalla. Pemerintah ini mulai melirik Cina sebagai salah satu investor (bisa juga disebut pemberi hutang) dan kawan dalam pelbagai pembangunan di Indonesia, seperti jalan kereta cepat, pelabuhan, bandara, dll. Bahkan Cina merupakan investor terbesar di negeri ini, menyisihkan Jepang, Singapore, Amerika dan negara-negara Eropa. Sementara sejumlah negara Timur Tengah juga semakin berminat investasi di Indonesia.

Ketika menuju akhir jabatan Jokowi-Jk, pembangunan insfrastruktur semakin nyata. Merupakan bukti kerja, kerja pemerintah. Oleh karena itu Jokowi berpasangan dengan Ma’ruf Amin akan melanjutkan periode kedua. Mereka ikut Pemilu 2019. Jokowi-Amin Paslon No. 01 versus Probowo-Sandi Paslon No. 02. Berdasar sejumlah lembaga survey hasil Quick Count, kemudian real count KPU, bahwa Paslon No. 01 menang. Tetapi, Paslon 02 tidak menerimanya, sebaliknya lebih unggul. Akibatnya suhu politik semakin memanas. Maka semua pihak diminta menunggu perhitungan resmi KPU pada 22 Mei 2019.

Dalam pertarungan itu ada dua kekuatan pokok, antara kubu Paslon 01 versus 02. Semua ada komponen nasionalis dan agama. Namun, ada juga komponen agama garis keras atau ideologi kanan. Muncul friksi kuat antara garis dukungan Cina versus Arab Saudi atau Timur Tengah. Seakan rakyat Indonesia terbelah dua kekuatan yang disokong asing.

Perlu dipertanyakan dimanakah sikap dan pemihakan terhadap nasionalisme Indonesia? Kubu satu menuduh bahwa kubu sebelah ingin mendirikan negara khilafah. Apakah kubu-kubu yang sedang berpesta memperebutkan kursi Presiden-Wapres kehilangan jati dirinya sebagai orang Indonesia?

Rakyat Indonesia dan para pendukungnya harus menyadari betapa pentingnya menomor-satukan keutuhan NKRI. Negara ini dibangun dengan derai air mata dan tetesan darah selama beratus-ratus tahun, mungkin menghabiskan 3-4 generasi. Merupakan lautan penderitaan rakyat Indonesia di muka bumi. Betapa sulitnya hidup bebas merdeka, bebas tentukan pilihan hidup, dan wujudkan rasa cinta terhadap Indonesia. Pada era millennial semua rakyat Indonesia harus ikut serta mewujudkan cita-cita pendiri bangsa ini.

Hiduplah dengan kedamaian dan ketentraman meskipun ada pengumuman KPU tentang Presiden-Wapres baru. Kita tetap utuh bersatu! Kita sebagai rakyat harus tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dan karena nasionalisme yang kuat dan mengakar. Kobarkan nasionalisme untuk generasi Indonesia sepanjang masa. (Red**)