08/14/2022
Post Visitors:39

Oleh : Ustadz Karyadi el-Mahfudz, S.Th.I, MA

BEKASI – FBN || Sepirit Dzulhijjah di tahun 1441 H bertepatan 2020 M kedepan menjadi ujian berat bagi ummat Islam, mengapa ? Ditengah meningkatnya covid-19 membawa kita pada ‘New Normal’ sebuah tatanan kehidupan baru, tetap menggunakan protokoler kesehatan dengan menjaga kebersihan diri, menggunakan masker, serta ‘social distancing’ atau jaga jarak dengan sesama, seakan menjadi ‘budaya baru’.

Kita harus mampu menguatkan eksistensi keagamaan kita, meski keterpurukan ekonomi, belajar via daring dan luring, seminar bahkan makan dan minum serba via online, keimanan kita tidak boleh lekang ditelan perubahan zaman.

Kita telusuri momen Dzulhijjah ketika Allah ﷻ menguji Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah untuk menyembelih Nabi Ismail AS. dalam Surat as-Shaffat 102-111فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ. فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ. وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَArtinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.”Pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu.” Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam.

Apakah mimpi itu dari Allah ﷻ atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah yang artinya, ‘berpikir/merenung.’Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah ﷻ.

Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah, yang artinya ‘mengetahui,’ dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah. Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan penyembelihan Ismail.Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr).

Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku !” Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi, aku diperintahkan Allah untuk menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu “Ia (Ismail) menjawab, “Wahai bapakku !” Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau, Insya Allah, engkau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Sebuah ajakan dialogis antara ayah dan anaknya yang zaman now sulit didapati dalam keluarga muslim, dimana sang ayah memulai dengan kata-kata bijaksana ” Wahai anakku !” dalam mengutarakan maksud hatinya, tidak mengedepankan egoisme sang ayah.Demikian pula sebaliknya kelembutan ucapan ayah dibalas dengan penuh kelembutan sang anak “Wahai bapakku !” Ya jawaban anak soleh yang selalu diidamkan oleh orang tua manapun, bukan jawaban anak yang tidak mempunyai adab dan akhlak, tentu kita berfikir apakah anak kita sudah kita tanamkan akhlak yang baik ? Mengapa prilakunya jauh dari kata soleh ? Ini tugas berat kita jangan sampai kita menjadi orang tua yang lalai.Ketika kita sudah mengetahui makna ‘tarwiyah,’ bagaimana kita berfikir dan ‘arafah,’ bagaimana kita mengetahui, kini kita harus tau makna qurban, kurban menurut etimologi berasal dari bahasa Arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang artinya dekat (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185).

Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Yang dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa sehari-hari, dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah” yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dari sini muncul istilah Idul Adha.

Dari perjalanannya yang panjang, dengan rentetan perjuangan dan ujian demi ujian, pada akhirnya Nabi Ibrâhim mendapatkan kemenangan, kelulusan, dan kesuksesan yang gemilang. Lulus dari ujian yang berat dari Allah ﷻ.

Hingga kini peristiwa tersebut dikenang oleh Muslim sedunia agar ajaran Nabi Ibrahim menjadi teladan dan diamalkan oleh ummat Rasulullah ﷺ sebagai sebuah tuntunan yang syarat dengan semangat sosial selalu berbagi terhadap sesama.Mari kita jadikan antara tarwiyah, arafah, dan qurban sebagai sepirit pijakan kita dalam mengarungi carut marut kehidupan yang multidimensi.

Dengan tarwiyah setidaknya kita menggunakan akal kita untuk berfikir sebelum bertindak bahkan mampu memilah dan memilih mana hasil berfikir yang baik.Melalui arafah maka kita diajak untuk mengetaui kebaikan-kebaikan yang sebelumnya masih terselubung di alam pikiran kita.

Setelah kita berfikir dan mengetahui kenyataan yang terjadi, maka berqurbanlah, dekatkan diri kita kepada Sang Khalik Allah ﷻ agar qalbu kita menjadi tenang, bahkan mencapai puncak ribuan kebaikan dan keikhlasan yang sesungguhnya, bukan ? ( Redaksi FBN )

%d blogger menyukai ini: