Misteri Tanah Wakaf Masjid Hingga Detik Ini Belum Kunjung Usai

60

KAB. SUBANG, FOKUS BERITA NASIONAL – Bedasarkan data dan statetment dari Mursal Ardiansyah selaku pemberi wakaf pihaknya telah mewakafkan sebidang tanah seluas 300meter persegi (Lebar 21 M2 & Luas 15 M2), Senin, 20 November 2017 Mursal mewakafkan kepada Ahmad Fatahudin (Bah Anom), dan berniat ingin membangun sebuah Masjid beserta prasarananya, Jum’at (6/9/2019).

Terlihat di surat pengesahan Nadzir No Kk. 10.13.1/W5/226/V/2018 (2 Mei 2018) yang disahkan langsung Kepala KUA Kab.Subang (Drs. H. Samsu Rijal, M.Ag), Ahmad Fatahudin (Bah Anom) selaku Ketua, selian itu ada empat nama yang tercantum yang diantaranya Suripto selaku Sekertaris, Dodo (Bendahara), Zenal Mutaqin dan Ulan Fulan sebagai anggota Nadzir.

Pengakuan Mursal Ardiansyah memaparkan pihaknya sebelum memberikan kepercayaannya kepada Ahmad Fatahudin selaku penerima wakaf ia sempat memberikan kepercayaan tersebut kepada Drs. H. Ace, M.M.Pd pada saat itu H.Ace selaku Ketua Rw.09. Namun Mursal mencabut kepercayaan tersebut dan memberikan kepada Ahmad Fatahudin selaku Ketua penerima wakaf.

Ahmad Fatahudin memaparkan asal mula ia mendapatkan kepercayaan selaku ketua penerima tanah wakaf dari Mursal Ardiansyah bedasarkan ditunjuk langsung oleh Bekti Subekti. Bekti Subekti sendiri di Kp.Cibarola terkenal selaku tokoh agama, pada saat itu di Kp.Cibarola ada tanah yang ingin di jadikan tanah wakaf dan berniat ingin mendirikan Masjid dan Bekti meminta bantuan Ahmad Fatahudin untuk mengurus semua dokumen wakaf tersebut.

” Kenapa Kang Bekti menunjuk saya sebagai Nadzirnya di lingkungan jadi begini, karna awalnya ada sedikit pengalaman, waktu Masjid yang ini yang didepan sini (Kp.Cibarola) itukan ingin jadi tanah wakaf tuh, Bah tolong ini bantuin abahkan tahu selalu ke KUA (Kab.Subang) gimana caranya supaya tanah ini menjadi tanah wakaf, nah saya ngebantuin sama kaya gini (Menunjuk data berupa kertas yang dibawa awak media) udah beres udah karna udah disetujui,” Ucap Ahmad Fatahudin (Ketua Nadzir) Kamis, (5-9-19) malam.

Ahmad Fatahudin memaparkan pihaknya sempat kebingungan Ketika tanah wakaf yang diberikan oleh Mursal kepada ia setelah disetujui oleh Kepala KUA Kab.Subang malah menjadi perdebatan hebat, “Kalau yang ini (Masjid Nur Jannah) setelah jadi selesai, tapi kenapa yang ini (tanah yang di wakafkan Mursal) kenapa udah jadi tapi masih ribut sayakan aneh, padahal ada (Stampel) Rt Rw Kelerahan (Kelurahan Soklat) dan KUA (Kab.Subang) Iqror langsung, nah setelah iqror seperti ini ke BPN langsung jadi, saya sempat bingung salahnya apa, ” lanjut Ahmad.

Saat ditemui dikediamannya H.Ace membenarkan pihaknya sempat menerima tanah wakaf yang di wakafkan oleh Mursal, hasil wawancara pihak media H.Ace memaparkan asal mula pencabutan wakaf tersebut yang diduga pencabutan tersebut sepihak,” Mencabut wakaf tidak memberi tahu saya seharusnya beri tahu dulu, wakaf itukan hasil musyawarah ketika mencabut harus musyawarah lagi, inikan saya tidak tahu Rt tidak tahu Rw tidak tahu, ” tuturnya.

Ditengah wawancara H.Ace memaparkan asal mula tanah yang di wakafkan oleh Mursal, dan H.Ace mengungkapkan bahwa tanah yang di wakafkan oleh Mursal bukan milik Mursal,” Munculnya wakaf itu tadinya kisruh, itu bukan tanah Pak Mursal, tanya kecuali keluarga Pak Mursal tanya masyarakat 10 saja, ada tidak satu orang kalau itu (mengatakan) tanah Pak Mursal, Peta itu data, data itu buatan data itu bisa salah, peta itu macam-macam ada peta pajak ada peta jalan, peta bisa robah bisa salah, tapi kalau masalah status tanah, sejarah tanah, coba tanya dan bandingkan simpulkan,” tutup H.Ace.

Terkait tanah yang diwakafkan Mursal hingga mencapai tingkat kepolisian setempat, dikarnakan adanya laporan dari pihak pemerima wakaf (Nadzir) bahwa ada masyarakat yang menggarap atau membangun bangunan rumah di tanah tersebut.

Reporter : Bachrie

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini