12/03/2022
Post Visitors:87

FBN – MUARA TEWEH || Setelah seringkali mendapat keluhan dari warga, Kerusakan jalan yang cukup parah menuju Desa Liang Buah, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara (Barut) mulai mendapat perhatian. Kini jalan tersebut mulai diadakan perbaikan dengan penggarapan.

Walaupun di tengah masa pandemi COVID-19 ini, Pemdes Liang Buah bersama aparatur desa, BPD dan masyarakat, masih bisa memgambil kebijakan untuk melakukan perbaikan jalan tersebut. Perbaikan jalan dilakukan yakni akses dari Desa Liang Buah atas menuju desa Liang Buah bawah atau ke jalan Negara yang selama ini rusak parah. Kades Sukardianto mengatakan jalan tersebut merupakan jalan alternativ sepanjang kurang lebih 7 kilometer, Pemerintah Desa mengunakan alat berat sejenis Grader untuk tahap awal perbaikan jalan ini.

“Kepada seluruh elemen masyarakat dan yang berkepentingan, mari kita jaga dan rawat jalan ini. Apabila cuaca hujan dan jalan masih basah, jangan sesekali dilalui apalagi mengunakan mobil sejenis roda 4 double gardan dan bermuatan yang melebihi tonase dan apapun alasannya,” ujar Kades Sukardianto, Jumat (18/9) kemarin.

Dikatakannya, lebih baik warga masyarakat bersabar dan menunggu sampai jalan tersebut kering demi kepentingan bersama. “Saya atas nama Pemerintah Desa meminta maaf, sebab hanya inilah kemampuan kami dari pihak desa. Karena sesunguhnya dana infrastruktur jalan semua dialihkan untuk bantuan pandemi COVID-19 ini.

Namun, di sisi lain perbaikan jalan ini juga sangat perlu buat warga desa, terutama menunjang perekonomian dan kelancaran akses warga,” kata Kades. Sebelumnya, Nanto salah satu warga mengatakan, bahwa jalan menuju Desa Liang Buah ada sekitar tujuh kilometer. Satu kilometer telah dilakukan pengecoran oleh pemerintah desa, dan satu kilometer lagi sudah dilakukan pengerasan menggunakan okes. “Jadi sekitar lima kilometer lagi jalan tersebut masih berupa tanah, yang mana apabila hujan tidak dapat dilalui oleh warga,” kata Nanto.

Dari lima kilometer tersebut kata dia, terdapat puluhan titik terparah yang menjadi kubangan air saat hujan dan tidak dapat kering hanya dalam beberapa hari. “Apabila hujan, masyarakat tidak dapat masuk maupun keluar dari desa. Karena jalan tidak dapat dilalui oleh kendaraan,” ungkapnya.

Pewarta : Leny

%d blogger menyukai ini: