Pengelola Lingkungan Hidup dan Persampahan Butuh Ruang Galeri dan Laboratorium

62

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Sejumlah negara maju, seperti Singapore memiliki ruang galeri/pameran permanen khusus program dan kegiatan pengelolaan lingkungan dan persampahan. Semacam time-series perjalanan institusi nasional yang mengelola lingkungan hidup dan persampahan. Merupakan titik-titik sejarah cerita sukses suatu negara dalam mengelola lingkungan dan persampahan.

Selain punya ruang eksibisi atau theater permanen khusus, juga memiliki laboratorium. Juga dilengkapi sarana digital yang bagus. Hal ini akan memudahkan para pencari ilmu dan fakta tentang progress program dan kegiatan yang dilakukan suatu periode panjang oleh suatu negara. Dan yang paling pokok menunjukkan keseriusan kerja dan profesional. Boleh juga dikatakan buah dari ilmu pengetahuan, kultur dan peradaban yang sangat maju dan canggih.

Gambaran ini bisa dilihat di theater National Environmental Agency of Singapore. NEA punya ruang theater besar yang menyajikan program dan kegiatan-kegiatannya. Sehingga para pengunjung akan lebih mudah memahami presentasi prestasi otoritas tersebut. Pada 1972 NEA dibentuk dengan mengusung isu pollution control, sewerage, drainage, and environmental health. Tahun 1977 Singapore mencanangkan program river cleand up. Tahun 1979 Singapore mulai membuka program waste-to-incineration plant Ulu Pandan.

Tahun 1982 Singapore deklerasikan bebas penyakit malaria di South-East Asia oleh World Health Organization (WHO). Tahun 1987 Singapore sukses wujudkan River Cleand-Up. Periodesasi pencapaian program dan kegiatian terus berjalan, misal tahun 2001 lahir formation of PUB. Singapore’s national water agency. Program dan kegiatan pengelolaan lingkungan, persampahan, sumber daya air, dll berjalan lancar hinggan muncul slogan Clean and Green tahun 2007.

Keberadaan ruang eksibisi permanen khusus itu dimiliki entitas pemerintah maupun swasta. Pun mereka punya laboratorium. Ketika tim studi mengunjungi SAMWOH/SWIC, suatu pusat daur ulang bekas material konsktruksi. Perusahaan swasta ini memiliki ruang pameran dan laborarorium cukup lengkap dan mapan. Perusahaan mempekerjakan para ahli dan bekerja sama dengan pemerintah Singapore.

Ketika kami berkunjung ke pusat daur ulang kayu, terutama untuk dijadikan bahan eco pallet. Perusahaan ini punya tempat pengujian pallet secara ilmiah. Perusahaan ini mendesain dengan komputer, sehingga ketepatan dan kualitasnya sangat akurat. Setelah diproduksi pallet tersebut dites dengan teliti sebelum dikirim ke pelanggan.

Dikatakan Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS) dan Anggota Dewan Pengarah dan Pertimbangan Pengelolaan Sampah Nasional (DP3SN). Kepada media Fokus Berita Nasional.com. Senin (1/4/2019).

Berdasar sedikit pengalaman di atas alangkah baiknya kita punya ruang pameran permanen dan laboratorium, misalnya untuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). mungkin KLHK sudah punya di Serpong. Pun kementerian lain, seperti PURP, kemenristek dan Dikti, lebih khusus BPPT, dll.

Kita juga perlu menekankan pada skala Provinsi dan Kabupaten/Kota. Bahwa Dinas-Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota seyogyanya memiliki ruang eksibisi permanen khusus dan laboratorium. Demikian pula perusahaan-perusahaan daur ulang dan yang menangani sampah harus punya laboratorium.

Apalagi perusahaan yang melakukan daur ulang material bekas material konstruksi dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pemerintah pada akhirnya harus menekankan suatu keputusan definitif, bahwa mereka semua harus punya laboratorium. Bagi perusahaan daur ulang dan limbah B3 harus punyal Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL), merupakan syarat mutlak. Hasil uji air limbah harus dilakukan setiap bulan dan dilaporkan pada lembaga resmi/pemerintah setiap tiga bulan sekali. Dalam konteks tersebut publik berhak tahu!!

Artinya secara profesional mereka harus bertanggungjawab pada pekerjaannya, lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat. Hal ini merupakan konskuensi mutlak. Mereka tidak boleh hanya mengejar keuntungan, tetapi beban tanggung jawab harus pikulnya. Masalah dan resiko lingkungan hidup adalah bagian dari investasi masa depan yang sangat berharga.

Bisakah kita mulai bekerja secara profesional, terbuka dan akuntabel kepada masyarakat luas? Sesungguhnya kita harus membuka bukti-bukti kerja kita sesuai arah keberlanjutan dan kemajuan peradaban manusia. (Red-FBN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini