Perlu Revolusi Mental dan Tindakan Dalam Pengelolaan Sampah

51

FOKUS BERITA NASIONAL | KABUPATEN

BEKASI – Memang tidak mudah mengubah mental dan tindak secara cepat dan mendasar atau revolusi dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Bekasi, yang sedang dirudung permasalahan sampah.

Kondisi yang dialami Kabupaten ini mungkin juga sedang dialami daerah lain di Indonesia. Bedanya hanya karena TPA nya ditutup warga sekitar sehingga menjadi sangat heboh!?

Masalah sampah itu bukan hanya ditumpukan pada TPA (tempat pemrosesan akhis), istilah dalam UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. Jika TPA jadi tumpuan kelola sampah, itu hanya pindahkan masalah.

Merupakan paradigma konvensional: Kumpul-Angkut-Buang. Artinya, hanya pengelola TPA yang bertanggungjawab kelola sampah. Pandangan ini sangat keliru. Dalam UU no. 18/2008 itu ditegaskan, bahwa setiap orang/badan yang menghasilkan sampah wajib mengelola sampahnya.

Kewajiban pengelolaan sampah harus mulai sumber sampah: rumah tangga, pasar, perkantoran, sekolahan, pelabuhan, dll. Bisa juga dikelola pada skala komunitas, kawasan, kota.

Dalam kerangka itu pemerintah dan pemerintah daerah wajib menyediakan sarana prasarana, teknologi, juga fasilitasi pemasaran dan dukungan lainnya. Pengelolaan sampah itu harus libatkan berbagai stakeholders. Sebagai suatu tindakan kolaborasi maju cepat. Dalam konteks kolaborasi pasti ada prinsip keterbukaan, saling percaya, dsb.

Untuk membentuk pemikiran dan tindakan revolusioner dalam pengelolaan sampah diperlukan suatu metode adaftif dengan label intelektual dan modern.

Para pengelola sampah adalah orang yang peduli lingkungan hidup. Orang yang lingkungan adalah orang yang hebat bertanggungjawab terhadap keberlanjutan umat manusia dan lingkungan. Orang yang peduli lingkungan adalah orang cerdas, intelek dan modern.

Memeng perlu waktu dan tahapan untuk membentuk mental dan tindak revolusioner dalam pengelolaan sampah. Hal ini perlu rekayasa sosial yang canggih dan membumi. Konsep, metode, strateginya perlu disusun secara hati-hati dan matang. (18/3/2018)

Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS). (Juhery)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini