Petani Subsisten Bertahan Hidup di Tengah Hembusan “NEO-KAPITALISME”

54

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Petani subsisten atau marginal berjuang setengah mati untuk bertahan hidup di tengah-tengah hembusan angin besar neo-kapitalisme dan komerialisasi. William Collier (1982), Yujiro Hayami dan Masao Kichucki (1981) sependapat, bahwa sejak tahun 1960-an, 1970-an, lebih-lebih 1980-an khususnya pedesaan Jawa mengalami perubahan sangat pesat akibat modernisasi dan mekanisasi pertanian – populer dengan “Green Revolution” – yang digencarkan Orde Baru.

Hal tersebut dikatakan Bagong Suyoto, salah satu perintis Perkumpulan Bangkit Tani Pasundan, Ketua Umum Koalisi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS). Kepada Fokus Berita Nasional.com, Selasa (28/5/2019).

Menurut Frank Husken dan Benjamin White, (“Java: Social Differentiation, Food Production, and Agrarian Control”, in Gillian Hart, et al, 1989), bahwa modernisasi dan komersialisasi pertanian timbulkan: The transformation of the rural structure and particularly the emergence of the commercialized peasant agriculture are seen as marking the beginings of social differentiation, the end of ‘involution’, or even as the inception of rural capitalism.

Involution pertanian merupakan istilah yang dibangun Clifford Geertz (1979), akibat semakin besarnya petani penggarap sementara lahan pertanian tetap. Inilah sebabkan kemiskinan bersama (shared poverty). Shared poverty sebenarnya akibat suatu proses ekspansi sistem kapitalistik Barat terhadap sistem ekonomi pribumi (indigenous) yang melebelkan dual society Boeke. Tetapi dalam perkembangannya involusi tidak semata-mata disebabkan lahan yang tetap, namun rentetan peledakan jumlah penduduk justru sangat berpengaruh saat ini.

Modernisasi dan komerialisasi pertanian setidak-tidaknya selain timbulkan akumulasi tanah dan sumber-sumber ekonomis lainnya, juga memperkokoh dimensi sosio-psikologi dan politis petani kaya. Ditambah masuknya para pemodal dari luar desa yang kadang-kadang justru menjalin hubungan-hubungan produksi dengan petani kaya. Secara pasti, petani kecil kehilangan kontrol alat-alat prooduksinya serta tidak mampu bersaing dengan sektor modern. Akhirnya mereka memproletariatkan diri, dan muncullah “dependency-marginality”. (Jeremiah O’Sullivan, 1980). Suatu kondisi yang sangat rentan atau subsisten. (Suyoto, 2015).

Semakin besarnya hubungan orang kota-desa mengingat semakin baiknya jaringan transportasi, jalan, jembatan, jaringan pasar dan komunikasi. Kota-kota sudah menjadi metropolis kapitalisme dan desa sebagai satelitnya dalam konteks neo-kapitalisme. (Bagong Suyoto, 2015). Kondisi sekarang lebih dasyat, apalagi ditunjang infrastruktur seperti tol trans Jawa, tol trans Sumatera, dll dan IT yang makin canggih.

Gillian Hart (1989) menegaskan, bahwa struktur ekonomi nasional berkaitan erat dengan kekuatan-kekuatan ekonomi internasional, merupakan suatu yang cukup esensial untuk mengetahui strategi pembangunan pertanian dan kaitannya dengan kehadiran deferensias pedesaan. Tampaknya pemikiran tersebut terbukti sesudah hubungan dependensia dilihat lebih khusus (sempit), yaitu antar ‘kota’ sebagai pusat modernisasi dan ‘desa’ sebagai penyedia kapital, buruh murah dan lokus pasaran produk. Dalam level ini Raymon Williams menyebut kota sebagai “the new metropolis”.

Sayogyo, Tjondrinegoro dan Kano sepakat, bahwa perubahan Jawa selama ini tidak diikuti oleh perubahan kelembagaan. Akibatnya timbul ketidakadilan, disparitas makin besar dan ketidaksuksesan reformasi agraria. Belakangan ini reforma agraria menjadi salah satu agenda pemerintah atas desakan sejumlah NGOs, akademisi dan kelompok-kelompok tani di seluruh Indonesia.

Coba kita tengok ke desa-desa di Jawa Barat, orang-orang kaya bekerja sama orang kota (pengusaha dan penguasa) memiliki dan menguasai tanah semakin luas, ratusan hingga ribuan hektar. Bahkan ada yang punya tanah jutaan hektar bila diakumulasikan di tempat lain, misal di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Papua, dll.

Sementara petani kecil sudah kehilangan asetnya. Kini jadi buruh tani, penggarap dan penyewa. Petani lainnya menggarap lahan tidur, lahan gersang milik petani kaya, developer atau tanah negara. Seperti yang dilakukan Perkumpulan Bangkit Tani Pasundan di Desa Burangkeng Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi, menggarap tanah milik PGN. Sebanyak 15-20 petani terlibat dalam perkumpulan tani ini. Mereka menanam sayuran seperti bayam, jangkung, terong, kacang-kacangan, umbi-umbian, buah-buahan seperti pepaya, pisang, dll.

Mereka ini merupakan petani subsisten guna pertahankan hidup terpaksa mengelola lahan tidur. Penghasilannya sangat kecil, kurang dari Rp 70.000- 100.000/hari. Usaha itu tidak mampu menopang perekonomian rumah tangga. Mereka tak punya lahan garapan. Ada yang tak punya rumah sendiri. Jika punya tanahnya hanya cukup untuk rumah.

Pengurus Bangkit Tani Pasundan berharap ada dukung riel dari pemerintah daerah atau Pusat dalam mengembangan usaha pertanian tersebut. Sudah lebih setahun mereka berharap namun belum ada sentuhan dari pemerintah, BUMN atapun swasta. Mereka tetap menunggu kebijakan dan kepedulian terhadap petani subsisten.

APPI, KPNAS dan KAWALI sedang melakukan advokasi atau pendampingan terhadap Perkumpulan Bangkit Pasundan agar suaranya terdengar oleh Pemerintah Pusat dan daerah serta pihak-pihak yang concern terhadap petani miskin. Semakin banyak yang peduli semakin baik. (red**)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini