PLTSa Bagian Mewujudkan Eco Industrial Park TPST Bantar Gebang

62

FOKUS BERITA NASIONAL | BEKASI – TPST Bantargebang terus berbenah, berbagai infrastruktur pengolahan sampah modern dan canggih akan dibangun secara bertahap. Pada tahap awal 2008 dirintis pembangunan Composting, Recycling, Power House pemanfaatan gas sampah menjadi energi listrik.

Merupakan proyek energi baru terbarukan (EBT). Proyek EBT terbesar dari gas sampah ketika itu hingga mencapai 16 megawatt dari target 26 megawatt tahun 2023. Bahkan proyek tersebut menjadi inspirasi di Indonesia.

Icon yang dikedepankan bahwa TPST Bantargebang menjadi pusat industri sampah, dan di Jepang dikenal dengan Eco Industrial Park. Pada tahun 2016 masih pertahankan composting dan power house. Dan tahun 2018 Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Kementerian dan DIKTI bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hadir dengan Pilot Project PLSa TPST Bantargebang, dengan teknologi thermal. Ini sejenis incinerator. Target produksi 50 ton/hari.

PLTSa Bantargebang akan diresmikan pada 25 Maret 2019 oleh Menteri Ristek dan Dikti, dihadiri Menko Maritim, Menteri KLHK, Menteri PPN/Bappenas, Kepala BBPT, Gubernur DKI, Walikota Bekasi, dll. Proyek tersebut bersumber dari APBN tahun anggaran 2018 sekitar Rp. 80,3 miliar. Kontraktor proyek adalah Indomarine.

Juga dibarengi dengan proyek riset sortir sampah yang akan diproses di PLTSa. Karena material yang diproses merupakan sisa sampah tak punya nilai ekonomis. Dalam konteks ini peluang mencari nafkah para pemulung, pelapak dan warga yang bergantung pada sampah harus dilindungi dan dijamin.

Kehadiran BPPT menyemarakan upaya pencarian solusi pengurangan sampah. Pada tahap jangka pendek sebagai bentuk aktivitas riset dan pengembangan. BPPT harus membuktikan, bahwa debu dan gas buangan atau udara aman bagi lingkungan. Setidaknya punya standar aman lingkungan, seperti dirilis KLHK atau Uni Eropa.

Contoh Ambang emisi UE, Komponen (mg/Nm3): Total partikel 10, Sukfur dioksida (SO2) 50, Nitrogen (NO dan NO2) 200, Hidrogen Klorida (HCl) 10, Mercuri (Hg) 0,05, Karbon Monoksida (CO) 50, Hidrogen florida (HF) 1 dan Dioksin dan Furan 0,1. Bagi sejumlah aktivis lingkungan persoalan lingkungan terutama pencemaran udara merupakan persoalan yang selalu dipertanyakan. Seperti pembakaran plastik tidak sempurna sebakan dioxin furan, penyebab kanker dan penyakit lain. PLTSa Bantargebang harus dapat menjawab pertanyaan serius tersebut.

Jangka menengah dan panjang perlu suatu pemikiran mempertimbangkan pembangunan pengolahan sampah modern, canggih dan skala besar, mungkin setiap plant mampu menyerap sampah 1.500-2.000 ton/hari. Mungkin di TPST Bantargebang perlu dibangun 3 plant.

Peraturan Presiden No. 97/2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga, bahwa tahun 2025 mentarget pengurangan sampah 30% dan pelayanan sekitar 70%. Pada tahun 2016 tingkat pelayanan sampah tertinggi 67% dan yang tidak tertangani 33%. Namun demikian secara faktual, seperti kota-kota yang berbatasan dengan ibukota Jakarta masih dihebohkan dengan masalah sampah. Contoh riel, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang berada atau menuju darurat sampah.

Perpres No. 97/2017 merupakan implementasi Peraturan Pemerintah No. 81/20012 tentang Pengolahan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga. Kedua peraturan itu sebagai pelaksanaa UU No. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. Tampaknya penanganan sampah mencapai angka 70% pada tahun 2025 masih berat. Kecuali ada Gerakan Revolusi Mental dan Tindakan yang luar biasa.

Argumentasi yang disampaikan, bahwa sampah DKI Jakarta yang dikirim ke TPST Bantargebang sekitar 7.200-7.500 ton/hari. Merupakan jumlah volume sampah sangat besar. Sementara untuk penambahan lahan semakin mahal dan sulit. Luas TPST sekitar 110,3 hektar masih memungkinkan perluasan hingga 40-50 hektar. Lahan itu digunakan untuk pembangunan infrastruktur pengolahan sampah teknologi modern skala besar.

TPST Bantargebang dapat dijadikan Zona Eco Indutrial Park atau Industrial Pengolahan Sampah dengan basis teknologi modern, canggih, saniter dan ramah lingkungan. Suatu Zona yang menampung dan mengolah sampah bukan hanya milik DKI, bisa juga berkolaborasi dengan Pemkot Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Sebab faktanya, TPA Sumurbatu milik Kota Bekasi semakin kesulitan mengelola sampahnya. TPA Sumurbatu makin berat kondisinya. Dalam format TPA REGIONAL atau ECO INDUSTRIAL PARK REGIONAL. Dalam konteks ini ada pola kemitraan antar daerah, juga kolaborasi dan kerja sama antar kementerian, seperti Kementerian Dalam Negeri, Kementerian KLHK, Kementerian PUPR, Kemenristik dan Dikti didalamnya BPPT, dll.

Perhatikan pada sore dan malam hari PLTSa Bantargebang tampak seperti industri atau kota baru di tengah gunung-gunung sampah. Pada suatu hari nanti orang akan bingung mencari gunung sampah. Karena, mimpinya, sudah tidak ada lagi tumpukan sampah. Truk-truk compactor langsung masuk ke plant pengolahan sampah. Sebanyak 17-18 compactor bisa masuk ke plant. Pendekatan, Metode dan Teknologi pengolahan sampah harus sudah berubah sangat maju, modern dan massif.

TPST Bantargebang akan menjadi pusat pengolahan sampah dengan multi-teknologi, dan teknologi modern dan canggih, pusat penelitian, pariwisata, dll. Pembentukan peradaban pengolahan sampah moder dimulai dari Bantargebang mengikuti kota-kota maju di dunia, sangat peduli terhadap lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.

Disamping itu, perlunya melakukan perlindungan dan pemulihan lingkungan hidup serta penyediaan fasilitas kesehatan dan pengobatan. TPST Bantargebang sudah melakukan perlindungan dan pemulihan lingkungan, seperti pengoperasian 3 IPAS selama 24 jam, uji lab lindi inlet outlet, air permukaan kali dan air dalam, udara ambient serta lalat dan insect, penghijauan dan green-belt, penataan sampah dan cover-soil, pembuatan taman sebagai RTH, pembenahan jalan dan drainase, bengkel/workshop, pencucian kendaraan, dll.

Bidang kesehatan yang dilakukan pembangunan Puskemas Rawat Inap di Kecamatan Bantargebang, juga Puskesma di tiga kelurahan, yakni Cikiwul, Ciketingudik dan Sumurbatu. Warga sekitar gratis berobat. Masing kelurahan diberi 2 unit mobil ambulance.

Warga sekitar dapat uang bau Rp 200.000/bln/KK naik menjadi Rp 270.000/bln/KK. Pencairannya melalui bank online atas nama kepala keluarga. Bahkan penerimanya ditambah dari 15.000 KK menjadi 18.000 KK.

Kompensasi lain warga sekitar dapat pelayanan air bersih sumur artesis. Kedalaman sumur artesis rata-rata 150 meter. Tahun 2018 dibangun 5 sumur artesis dengan nilai proyek Rp 25 miliar. Jika sumur artesis kurang akan dilakukan penambahan lagi.

Bisa diakui, bahwa adanya TPST Bantargebang telah membawa manfaat dan perubahan besar. Kota Bekasi pun terbantu dengan adanya dana kemitraan, tahun 2018 mencapai Rp 500 miliar. Dana tersebut masuk ke APBD Kota Bekasi. Oleh karena harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat Kota Bekasi. Kamis (21/3/2019)

Seperti di paparkan Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi dan Pelapak Indonesia (APPI), Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS), anggota Dewan Pengarah dan Pertimbangan Pengelolaan Sampah Nasional kepada media fokusberitanasional.com. (Red-FBN)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini