Proses Olah Sampah Dengan Teknologi Tepat Guna dan Tantangannya

54

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Upaya keras mengurangi dan mengolah sampah dengan mult-teknologi, terutama teknologi tepat guna tidak muda, karena tantangannya cukup berat. Semua perlu waktu dan pembuktian faktual! Kalau sudah ada hasilnya, publik baru percaya.

Sejumlah aktivis lebih banyak beri kritik bombastis dan repetitif, padahal sama sekali tidak pernah mengolah sampah dengan tangannya sendiri. Mulutnya busuk seperti sampah, berbahaya dan penuh kedengkian dan hasut!? Perilaku sangat berbahaya! Mereka sudah tahu tumpukan-tumpukan sampah semakin banyak malah makin sibuk rapat-rapat, diskusi, seminar, workshop, dan membangun counter-culture, dll. Sementara pemerintah tidak beri dukungan sarana dan teknologi seperti yang masyarakat butuhkan. Apa yang masyarakat butuhkan jadi patok kebijakan dan dukungan pemerintah.

Disampaikan Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) dan Anggota Dewan Pengarah dan Pertimbangan Sampah Nasional (DP3SN). Sabtu (4/5/2019).

Saya bersama Tim akan menyajikan apa yang sedang dikerjakan bersama sejumlah kolega di bidang pengolahan sampah. Tim kami sedang melakukan riset inovasi teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bangunan atau Waste to Material (WtM). Sampah lama yang menumpuk puluhan tahun, jumlahnya jutaan ton dapat disulap menjadi material bangunan, seperti batu bata, pavin-block, loster, dll.

Saya bersama Tim dan kolega swasta akan fokus pada riset dan pengembangan WtM, sebab teknologi ini dapat mengurangi sampah secara signifikan. Kami sedang persiapkan teknologi untuk olah sampah kasitas 1.000-1.500 ton/hari per plant. Teknologi tersebut dalam kategorial teknologi tepat guna. Kami berencana satu – dua tahun lagi akan me-launching penemuan teknologi tersebut. Kami bekerja keras, siang malam, pantang menyerah untuk buktikan, bahwa kami sedang bekerja.

Riset dan pengembangan WtM membutuhkan waktu, pikiran, tenaga dan biaya, juga kegiatan rancang bangun teknologi yang akan digunakan. Hasil riset tersebut, ada yang sudah siap diproduksi secara massal. Inovasi teknologi yang dirancang dan komposisi materialnya sebagian sudah dipatenkan.

Kami juga sedang riset dan merancang bangun teknologi dengan pendekatan dan teknologi waste to energy (WtE). Sampah baru dapat dijadikan briket. Teknologi ini diharapkan dapat mengurangi sampah secara signifikan. Kapasitas produksi 1.000-1.500 ton/hari. Teknologi dan produk ini juga dipatenkan agar hasil riset kami aman dilindungi oleh undang-undang.

Teknologi WtE yang ada sekarang adalah pemanfaatan gas-gas sampah menjadi energi listrik, seperti proyek power house di TPST Bantargebang dan tempat lain. Teknologi ini membutuhkan sampah organik, volume gas-gas sampah sulit dipredisi sehingga seringkali tangkapan gas-gas sampah (seperti CH4, CO2, dll) menurun akibatnya produk listrik juga menurun, tumpukan sampahnya tidak berkurang karena tergantung pada proses dekomposisi secara alamiah. Sementara biaya operasional konstan besar, biaya maintenance besar dan resiko-resiko lainnya cukup tinggi.

Selain itu, kami sedang riset dan pengembang teknologi WtE, sampah di-convercy jadi bahan bakar minyak (BBM). Namun, teknologi yang kami cobakan berasal dari luar negeri. Nantinya, teknologi akan diuji-coba selama satu, dua tahun jika layak keenomian dan aman bagi lingkungan maka akan dikembangkan, termasuk membangun market networking.

Sebetulnya di dalam negeri beberapa kawan juga menemukan teknologi olah sampah jadi BBM. Mereka menjadi sangat populer seperti artis. Sayangnya, kurang dapat perhatian dari pemerintah pusat dan daerah.

Sekarang dalam skala mikro yang kami jalakan adalah daur ulang plastik. Sampah plastik disortir, seperti PET, ember, mainan, naso, PK, LD, dll. Kemudian dicacah menjadi bahan daur-ulang. Kami belum memiliki mesin inject dan biji plastik. Kami sedang mempersiapkan untuk membangun infrastruktur plastic recycling. Teknologi yang akan dipakai adalah teknologi tepat guna made in domestik.

Dalam melakukan riset dan pengembangan serta produksi massif, kami butuhkan partner dan investor, juga dukungan pemerintah. Suatu format kalaborasi yang sinergis. Semua harus bergerak. Supaya kegiatan itu aman dan dapat garansi serta kepastian hukum. Pemerintah harus dapat menjamin kemapanan dan sustainability kegiatan yang sangat memberi manfaat bagi semua pihak dan keberlanjutan lingkungan. (red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini