Sang PATRON Sedang Gundah Gulana Menanti Kursi Presiden

54

BEKASI, FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Pemilu 2019 Indonesia sejak persiapan, hasil quick count, real count hingga hasil rekapitulasi KPU pada 21 Mei 2019 timbulkan berbagai ketegangan dan konflik riel hingga tingkat lapangan. Konstelasinya makin meluas dan menegangkan. Rakyat Indonesia baru saja menyaksikan tragedi 21 dan 22 Mei 2019, yaitu demontrasi massa menolak hasil rekapitulasi KPU. Dimana pasang Capres-Cawapres No. 01 Jokowi-Ma’ruf Amin peroleh suara lebih banyak ketimbang No. 02 Prabowo-Sandi. Artinya No. 01 menangkan Pemilu.

Seperti dikatakan Bangong Suyoto, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS). Rabu (29/5/2019). Para capres-cawapres itu bisa dibilang Patron. Orang-orang yang punya kekuatan dan sumber daya sangat besar guna menggerakan massa. Massa atau para pengikut itu bisa disebut client. Hubungan mereka itu merupakan hubungan patron-client, yang berjalan cukup lama. Setidaknya mereka disatukan oleh ideologi tertentu, kepentingan bersama untuk menangkan kursi presiden, dll.

Sejak hasil quick count sejumlah lembaga survey dipublikasikan secara massif ada patron besar dan patron-patron di bawahnya menjadi sangat gundah gulana. Hari-harinya dipenuhi rasa sedih mendalam dibarengi emosi dan ledakan kemarahan. Makan tak enak, tidur tak nyenyak. Sang Patron besar sedang gundah sedang menanti kursi Presiden. Mimpi panjang yang belum terwujud. Sang Patron besar berupaya keras mencari jalan membalikan angka-angka itu. Sang patron dan client dan juga brokernya membangun pemikiran-pemikiran baru sebagai counter dan jalan menembus lubang semut.

Untuk menghibur diri dan menenangkan diri, Sang Patron besar diikuti orang-orang kepercayaanya melakukan lawatan ke luar negeri beberapa kali. Tampaknya sedang menghindari kebisingan dan hujatan politik dalam negeri. Atau ingin menemui Patron lebih besar di negeri orang untuk mendapatkan nasehat jenius. Bisa juga sedang memikirkan strategi dan taktik untuk membangun spirit dan kekuatan baru. Juga dengan kekusyukan menunggu ‘wangsit’ dari Tuhan.

Sang patron besar, pengikut dan brokernya sedang membangun strategi dan taktik dengan berupa paradigma baru yang lebih berani. Bahwa Pemilu 2019 telah disarati kecurangan secara terstruktur, sistematis dan massif. Akhirnya memilih opsi aksi-aksi jalanan. Mereka melakukan demontrasi dan mendengungkan suara kencang tidak menerima rekapitulasi KPU.

Mereka tampaknya tidak percaya pada jalur konstitusional. Tetapi jalan yang ditempuh tidaklah mudah, ada perlawanan sangat kuat. Karena mereka berhadapan dengan aparat hukum, Polri, TNI dan pemerintah. Di pihak lain, berhadapan dengan patron besar, patron-patron, broker dan client Pasangan No.01. Akhirnya, pasca-demo 21 dan 22 Mei 2019 dinilai tidak berhasil, lalu mengambil langkah konstitusional, yakni melakukan gugatan di Mahkamah Konstitusi.

James Scott mendefinisikan, apakah ia seorang tuan tanah, seorang pejabat atau pedagang, pejabat partai politik. Patron adalah orang yang posisinya untuk membantu client. Pengertian patron harus dibedan dengan ‘elite’. Meskipun para client seringkali sebisa-bisanya memberikan arti moral kepada hubungan itu – patronase itu ada segi baiknya, karena sumber dayanya. Jika itu Capres-cawapres pasti sumber daya dan networkingnya sangat besar dan kuat.

Menurut Keith R. Legg, Patron, Clients, and Politicians: New Perspectives on Political Clientelism, bahwa motivasi dan syarat hubungan patron-client ada beberapa. 1. Para sekutu (partners) menguasai sumber-sumber yang tidak dapat diperbandingkan (noncomporable resources) atau timpang. 2. Hubungan tersebut mempribadi (personalized) dan. 3. Keputusan untuk mengadakan pertukaran didasarkan pada pengertian saling menguntungkan dan timbal balik (mutual benefit and resiprocity). 4. Onghokham (1983) menambahkan, hubungan juga dapat berlangsung dalam suasana ketergantungan dan eksploitatif pihak yang kuat terhadap yang lemah.

Biasanya para pakar gunakan tolak ukur berupaya perbandingkan kekayaan, kedudukan (status quo), atau pengaruh pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan patron-client itu. Kepemilikan sumber daya yang timpang menjadi daya tarik dan ketergantungan client. Seperti teori ketergantungan dan model komoditisasi versi mutahir konsep dan thesis Normam Long (1986) bersama Jan Douwe vannder Ploeg, Chris Curtin dan Louk Box dari Agriculture University Wageningen.

Lebih khusus Josep Errington (Yale University) dalam Moertono (1968) menyatakan: Patron/client relations were conceptualized and idealized in term so general as to be applicable to any social relation involving superior and inferior: “the relationship between servant and master is not impersonal, it rather a personal and close ties of mutual respect and responsibility. Ideally it is modeled after the care and love of family ties”.

Dalam hubungan patron-client biasanya ada broker atau perantara. Pada sektor bisnis sangat populer dengan kata broker. Demikian pula di dunia politik. Belakang semakin marak ada proyek-proyek pasang alat peraga kampanye, demo-demo, survey, dll. Semua proyek itu sampai ke tangan client melalui broker. Broker dan client dapat income dari proyek itu. Jika hasilnya bagus menjadi broker dan client yang semakin dipercaya. Oleh karena mereka berusaha bekerja bagus dan loyal pada patron.

Terjadinya pasang-surut hubungan patron-client adalah loyalitas atau kesetiaan. Ketika client keadilan dan kemakmurannya tidak perhatikan, lalu memilih jalan lain atau pindah ke patron baru. Ada juga tergusurnya patron oleh suatu keadaan. Bisa juga akibat perekrutan atau tergusur dari jabatan politik. Bisa juga sang patron jatuh atau terjerat hukum karena melakukan pelanggaran serius dalam konteks ancaman keamanan negara atau kategori kriminal. Kondisi ini dialami di dunia modern atau negara maju di dunia. (Red**)