SELIMUT DEMOKRASI, Catatan Alga Mahate Ara

58

BANDA ACEH, FBN | Dua tetangga ku dulu sering bertamu. Ketika masa-
masa jelang pemilu. Obrolan mereka selalu seru.
Membicarakan capres yang sedang berseteru. Siapa kira-kira yang akan maju, dan memenangkan pemilu? Secara masing-masing punya kandidat dan pendapat
berbeda. Jadi, tiap bertemu seperti berdebat tak ada habisnya.
Yang satu selalu memuji sang capres kurus, dengan berbagai pujian diluar nalar. Yang satunya lagi, memuja
capres gemuk. Yang sudah mendapat restu para Ulama. Dan sangat yakin firasat ulama pasti benar.
Bahwa calonnya pasti akan menang. Aku kadang ikut pusing mendengar percakapan mereka. Rasanya pingin
berkata,Jangan terlalu berharap pada manusia.

Sebaik apapun pribadi seorang pemimpin, jika sistemnya masih sama. Tetap saja akan jadi boneka!” Sayang,
perkataan itu cuma terpendam dihati saja. Karena mereka adalah bapak-bapak Aku tak berani.Akhirnya pemilu selesai. Diluar dugaan, ternyata petahana kembali menang. Konon, banyak terjadi
kecurangan. Namun bukti-bukti yang ditemukan, bisa
dipatahkan. Katanya video tidak bisa dijadikan barang bukti. Bila saksi tidak hadir ditempat kejadian. Tentu
saja banyak yang kecewa, merana, marah bahkan tak terima. Hingga terjadilah aksi massa yang tidak
percaya keputusan MK. Mengakibatkan bentrok antara massa dan aparat. Ditambah adanya penyusup, pembuat rusuh. Entah siapa yang menyuruh.

Sekarang tetangga ku sudah jarang datang. Kalaupun datang sekali-kali, tak lagi membicarakan politik.
Pernah sekali aku mencoba bertanya,Nampak dia
kecewa, walaupun mengaku legawa. Dia bilang “Yang penting kan, kita sudah berusaha. Kalau akhirnya seperti ini mau bilang apa? Mari kita jalani sama-sama, biar para pendukungnya (capres kurus)
juga ikut merasakan akibat dari pilihannya”. Diapun juga menasehatiku, jangan mengkritik di medsos lagi.
Karena rezim ini “Rezim suka-suka”. Lebih baik kita urus keluarga saja, dan perbanyak doa.

Sedang tetangga yang jagoannya menang. Ternyata kemenangan itu, tidak berdampak pada kehidupannya.
Kalau datang masih suka curhat soal sulitnya ekonomi.Apa-apa mahal, cari uang tambah susah. Aku merasa prihatin. Terus apa untungnya bagi rakyat, yang
katanya berdaulat. Jika yang sudah terpilih, malah sibuk berbagi kursi.

Balas budi pada partai koalisi. Dan mencibir partai oposisi. Yang akhirnya sebagian
merapat dengan rendah hati. Agar bisa mendapat
sedikit rejeki. Begitulah sistem demokrasi. Rakyat yang berdaulat
seperti tak dianggap. Ketika mereka minta
diperhatikan. Atas kesulitan yang mereka rasakan.Jawaban pejabat malah menyakitkan. Pengungsi minta bantuan, jangan menjadi beban negara. Mengeluh bpjs
naik, katanya biar sadar kalau sehat itu mahal. Jangan manja, sakit sedikit datang ke rumahsakit. Ini toh, hasil
pemilu 25 triliun itu? Sudah dapatnya kardus digembok
besi. Bukanya pakai gergaji. Petugas kpps banyak yang
mati. Hasilnya bikin sakit hati.Masih percaya dengan janji-janji? Masih percaya dengan demokrasi? Masih berharap pada manusia

Masih percaya dengan janj-janji? Masih percaya
dengan demokrasi? Masih berharap pada manusia yang haus kuasa? Kepentingan partai dan koalisi, itu
yang mereka pikirkan bukan kalian. Lihat saja setelah membuat rakyat bermusuhan, saling berbenturan.
Mereka pun bisa berangkulan seolah tanpa beban.
Lupa sudah berapa nyawa yang telah menjadi korban.

Seharusnya dari awal jangan bermusuhan. Bersaing dengan saling menjatuhkan. Dan mengompori rakyat
jadi bersitegang
Harusnya kita sadar, pemilu sudah diulang berkali-kali.Bahkan sudah pernah terjadi reformasi. Tapi tidak ada
perubahan yang berarti. Korupsi kian menjadi. Keadilan makin sulit ditemui. Apalagi kemakmuran. Persatuan
pun sudah dipecah belah, justru oleh mereka yang
diberi amanah.

Mari berpikir kenapa sih kita terus begini? Seolah
negeri ini jauh dari keberkahan. Ya, tentu saja karena satu-satunya petunjuk yang benar mereka campakkan.
Yaitu Alquran yang merupakan hudalinnas, yang turun langsung dari Malikinnas. Menganggap sistem buatan
manusia lebih relevan untuk diterapkan. Sedang sistem buatan-Nya, dianggap sejarah usang. Ketinggalan
jaman.

SELIMUT DEMOKRASI
Oleh: Alga Mahate Ara

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini