Tafsir Politik Papan Atas, Berbeda Dengan Rakyak Kecil Tentang Kekuasaan

55

FOKUS BERITA NASIONAL.COM | Para penulis dari Port Royal Logique, menyatakan: ‘nous ne pouvons avoir aucune connoissance de ce qui estv hors de nous que par l’entremise des idee qui son en nous’ (kita tidak mungkin mendapatkan pengetahuan sedikit pun tentang hal-hal yang tidak ada pada kita, kecuali melalui perantara ide-ide yang ada pada kita). Mereka berkesimpulan, bahwa ide-ide ini sendiri harus menjadi fokus studi. Pemikiran sebagai jenis medium inkorporeal batin menjadi perhatian yang sentral. Michael T. Gibbon, Profesor Sain Politik Universitas Souht Florida USA, Interpreting Politics, 1987).

Dikatakan Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI) dan Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNAS). Selasa (11/6/2019), saat bincang dengan media Fokus Berita Nasional.com. Menyampaikan, bahwa pemikiran itu harus dipecah-pecah menjadi bagian-bagian komponennya. Bagian-bagian ini adalah ide-ide dari epistemologi abad ke-17 dan 18 M. Lalu apa itu pemikiran (thought) itu? Pemikiran adalah kumpulan ide-ide, tepatnya kumpulan ide-ide yang jelas dan khas, dan sesuai dengan cara komponen-komponen itu dikumpulkan. Pemikiran adalah sebuah diskursus mental, sebagaimana Hobbes mengistilahkannya. Artinya, pemikiran tidak lagi berfungsi mengartikulasikan dan menjelaskan persoalan-persoalan lama, tetapi sejenis pencerai-beraikan dan pengumpulan kembali. (Michael T. Gibbon, 1979).

Ide, pemikiran, tindakan akan bermakna bila terjadi interaksi yang frekuensinya massif. Interaksi dalam konteks sosial, budaya, ekonomi berbeda dengan politik. Namun, bisa juga interaksi politik dimulai dari konteks sosial atau bisnis. Mungkin awalnya sebagai teman atau partner bisnis, kemudian menggagas berdirinya suatu partai politik. Selanjutnya ada ide-ide koalisi partai politik guna memenangkan Pemilu atau mengamankan dan memupuk kekuasaan.

Herbert Blummer (Symbolic Interactionism: Perspective and Methode, 1969) mengatakan, akar ide-ide interaksi manusia. Bahwa tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat manusia itu sendiri. Selanjutnya Blummer menulis: “Pada dasarnya tindakan manusia terdiri dari pertimbangan atas berbagai hal yang diketahuinya dan melahirkan serangkaian kelakuan atas dasar bagaimana mereka menafsirkan hal tersebut. Hal-hal yang dipertimbangkan itu mencakup berbagai masalah seperti keinginan dan kemauan, tujuan dan sarana yang tersedia untuk mencapainya, serta tindakan yang diharapkan dari orang lain, gambaran tentang diri sendiri, dan mungkin hasil dari cara bertindak tertentu.”

Seperti munculnya ide-ide tentang “makar”, “people power”, “penggulingan kekuasaan” atau yang lebih keras “kudeta”. Ide-ide seperti ini bukan sesuatu yang baru, mungkin sejak ratusan atau ribuan tahun lalu. Pada zaman kerajaan-kerajaan mulai Mesir kuno hingga kerajaan Nusantara ide-ide di atas mungkin sudah dikenal, dan begitu populer di kalangan kelas atas. Rulling class juga punya tafsiran politik sendiri, yang berbeda dengan pemahaman dan tafsiran kelas bawah atau rakyat kecil. Mereka yang punya ide-ide boleh jadi punya pengetahuan, pengalaman, sarana dan sumber daya yang memungkinkan untuk mencapai tujuannya.

Ide-ide mengenai “makar”, “people power” atau sejenisnya muncul ketika rekapitulasi Pemilu Indonesia 2019 dimulai, pasca realease ke publik hasil quick count beberapa lembaga survey. Semakin kencang ketika perhitungan suara di KPU berjalan dan puncaknya pada 21 Mei 2019 . Kemudian pada 21, 22 dan 22 Mei 2019 muncul demo-demo massif menolak hasil rekapitulasi KPU sebab mereka menggap Pemilu diwarnai berbagai kecurangan. Mereka memunculkan ide-ide tentang kecurangan terstruktur, sistematis dan massif. Lalu mereka mengambil opsi menempuh jalur hukum di Mahamah Konstitusi. Kelas atas, terutama yang kalah punya penafsiran tersendiri. Berbeda dengan pihak yang menang Pemilu berdasar rekapitulasi KPU. Juga berbeda dengan pemahaman dan tafsir rakyat kecil.

Tetapi kita sebenarnya perlu mengetahui secara detail, apa yang terjadi dengan munculnya ide-ide dan tindakan serta fakta di lapangan, lebih dari itu perlu mengetahui di balik semua itu? Ada skenario-skenario lebih keras untuk wujudkan ide-ide itu yang perlu diketahui publik. Tujuan dari munculnya ide-ide, tindakan dan tafsirnya adalah untuk merebut kekuasaan di Indonesia. Namun, tidaklah mudah karena itu sangat rahasia dan sangat membahayakan masa depan mereka.

Ide-ide dan tindakan itu kini memasuki ranah hukum. Orang-orang yang mencetuskan mulai dijaring kepolisian. Waktulah yang akan membuka selimut tabir gelap tersebut. Dan nanti rakyat kecil pun akan tahu, mungkin akan muncul ide-ide dan tindakan serta tafsir politik tersendiri dari rakyat kecil. Rakyat kecil punya ide-ide, alur, tindakan dan tafsir gerakan berbeda dengan kelas atas. (Red)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini