08/11/2022
Post Visitors:23

KABUPATEN GARUT – FBN | Ketua Apdesi (Assosiasi pemerintahan desa seluruh indonesia) Kabupaten Garut Isep secara terang-terangan menghina ,melecehkan,mengerdilkan wartawan. Perkataan busuk Isep kemudian memancing amarah para awak media di Garut.

Dari percakapan Isep kepada salah seorang wartawan di Garut, dia mengatakan bahwa wartawan yang boleh berkunjung ke desa hanya yang memiliki kartu biru (organisasi PWI).

Isep juga mengatakan apabila ada wartawan berkunjung ke desa hendaknya diusir oleh pihak desa,juga pintunya di kunci agar wartawan tidak masuk dan jika wartawan tetap ngotot masuk maka silahkan laporkan ke polisi.

Mendengar ucapan ini sejumlah wartawan di Garut merasa berang,marah atas sikap Isep tersebut. Sangat disayangkan sosok ketua apdesi rupanya memiliki SDM yang sangat kurang bahkan sekelas dengan tukang becak atau burung beo yang baru belajar bicara.

Ketika sejumlah wartawan seperti Yohanes, Wahyu, Ajang dan H.ujang selamet berkunjung ke Diskominfo Garut, Sekertaris Diskominfo mengatakan bahwa sikap seperti itu dilatar belakangi karena kurangnya SDM. “Saya rasa itu karena kurang SDM,” kata sekdis.

Sejumlah wartawan pun mengadukan kembali kepada asisten daerah, H Nurdin atas penghinaan tersebut. H Nurdin kemudian memfasiltiasi mediasi antara wartawan dengan pihak apdesi. Namun Isep sendiri tidak hadir karena dirinya akan dilantik sebagai ketua Apdesi di selatan Garut. Mediasi pun diwakili ketua Parade dan sejumlah kepala SKPD Garut.

Wartawan meminta persoalan ini segera diklarifikasi dan meminta Isep segera membuat permohonan maaf di beberapa media cetak baik media nasional maupun media lokal yg ada di Garut atas ungkapannya itu.

Bahkan awak media membanjiri kantor wakil ketua dewan (H.enan) Tapi di sayangkan sikap wakil ketua dewan bukan mempasilitasi permasalahan tsb, melainkan di kembalikan lagi ke H.nurdin.
Wartawan Garut, Yohanes,wahyu, ajang pendi juga H.ujang selamet merasa tersinggung atas ungkapan busuk Isep. Yohanes pun tidak akan tinggal diam. Dia meminta dari mediasi dengan sejumlah pihak itu ditindak lanjuti dengan menghadirkan Isep.

Kalau tidak, Yohanes dkk mengancam akan mendatangkan massa lebih besar yang terdiri dari kalangan jurnalis.

Jika dilihat dari undang-undang pers sendiri, sikap Isep bisa dikategorikan menghalang-halangi tugas wartawan dan penghinaan atau pencemaran nama baik juga pelecehan.

Isep bisa dikenakan dengan pasal menghalangi tugas wartawan dan dikenakan denda sebesar Rp500 juta atas pernyataannya tersebut.

Pada Senin, (03/08/2020) awak media mendatangi kantor dewan dan diterima Wakil Ketua DPRD Garut, Enan. Kehadiran media itu meminta agar ketua APDESI diberikan sanksi dan dipanggil atas apa yang dia ucapkan terhadap awak media.

Namun rupanya Enan malah mengembalikan ke Asda H Nurdin untuk memanggil ketua APDESI. Padahal keinginan media agar DPRD bisa memanggil para pihak untuk mediasi seperti apa kejelasan ungkapan busuk Isep terhadap media.

Dalam diskusi bersama Wakil Ketua dewan, Enan, seorang wartawan bernama Yohanes tampak emosi atas sikap Isep. Yohanes begitu lantang mengungkapkan busuknya ungkapan ketua APDESI.

Namun sayang tampaknya beberapa awak media yang dari awal berjuang dan lantang malah terlihat kendor pasca bertemu Ketua APDESI di sebuah vila. Entah kado apa yang telah diberikan ketua APDESI.

Namun Patroli Dkk tetap teguh mempertahankan idealisme dan memperjuangkan nama baik pers yang telah diinjak injak oleh oknum kades.(Rilis/Red)

%d blogger menyukai ini: